Album terbaru Silampukau, Arkipelagia, bagiku adalah sebuah hasil dari daya upaya mencari kelokan baru dalam penciptaan musik. Perubahan format dari duo menjadi sebuah orkes bukan sekadar keputusan estetika—itu sebuah keberanian, bahkan semacam tekad untuk membuka pintu baru dalam cara mereka bercerita, karena itulah musik bagi mereka. Silampukau menghadirkan sebuah cerita tanah rekaan yang jauh sekaligus sangat dekat dengan Indonesia hari ini. Arkipelagia terasa seperti bayangan negeri kita sendiri: diregang oleh kekuasaan yang tercerabut dari tanahnya, penguasa mengidap diabetes dan hidup di awang-awang, tak berpijak kepada siapa mereka mestinya menghamba.
Album ini diluncurkan dalam beberapa bagian, seperti cerita bersambung tentang sebuah negeri yang sedang melalui masa pancaroba. Kerusakan menyentuh setiap lini kehidupan, sementara kita menjadi mamalia tak berdaya yang masih beranak-pinak dan bermanuver kiri-kanan di antara reruntuhan. Di nomor-nomor Arkipelagia, saya melihat Indonesia yang pelan-pelan runtuh dan terpecah oleh kuasa manusia-manusia yang tidak saya kenali lagi. Ini bukan Surabaya dari album pertama mereka yang—entah kenapa—membuat saya rindu akan Surabaya walau saya tak terlalu sering ke sana. Kumpulan lagu-lagu ini adalah cerita tentang tanah pedalaman di mana hawa lebih sering beraroma asam, kemegahan dan kelapukan tergambar bergantian, menyesakkan. Kharis dan Eki seperti serigala malam: melolong mencemaskan, mengingatkan, sekaligus jadi penyambung suara para pejuang bawah tanah. Mungkin Arkipelagia akan terdengar lebih keras beberapa dekade dari sekarang. Ia seperti pesan yang dilemparkan ke masa depan—seperti saat aku mendengar cerita-cerita heroik laskar pemuda dari Sulawesi di masa revolusi: mereka seketika bergerak ke sana dan kemari, membawa surat, menjadi penghubung, dan ikut bertempur di Serangan Umum 1 Maret 1949.
Folk—dalam sejarahnya—selalu menjadi musik akar rumput. Saya pernah banyak mendengar Bob Dylan dan Joan Baez, dan karena mendengarkan Dylan, saya lalu mengetahui cerita Woody Guthrie yang adalah guru dari gerakan folk era Dylan. Di Indonesia pada era derita 80-an ada banyak cerita atau puisi protes dan cerita progresif dari Leo Kristi, Franky Sahilatua atau Iwan Fals. Folk masih hidup di antara kita, ia masih punya pengikut di kalangan pendengar muda perkotaan, walau mungkin di ruang ruang yang lebih sepi.
Secara musikal, Silampukau kini bergerak dengan langkah yang lebih lebar. Permainan terompet dalam Blues Bunga Api, suasana orkes stambul, hingga Gerimis yang begitu muram dan sunyi memberi warna baru yang mendalam. Dalam struktur dramatik film, Arkipelagia seperti sebuah cerita yang penuh momentum, penuh amarah yang ditahan. Ketegangan seolah berhasil dihadirkan dalam dialog-dialog yang kadang terucap tenang. Menggambarkan bagaimana kebodohan yang dipelihara penguasa, bagi masyarakat bisa menjadi senjata yang paling menghancurkan.
Beberapa nomor kesukaan saya di Arkipelagia. Gerimis Malam Kemarau, karena lagu ini adalah bentuk nyata dari negeri Arkipelagia, selalu ada celah-celah indah yang ditemukan di antara musim derita yang tak habis-habis. In Memoriam, puisi bluesy yang begitu kita-kita. Coba amati satu per satu kosakatanya. Sepekat itu kepahitan. Sejauh Ku Memandang. Musik ini bagiku adalah alarm kalau hidupku ini sesungguhnya juga dibangun oleh orang orang yang jauh di sana, mereka bekerja saja, ikut maunya musim, bahkan mimpi pun selalu terlupa. Sentrapolis, sebuah lagu yang membuat saya ingin menulis sebuah film neo-noir Indonesia, tentang tokoh-tokoh di sebuah kota kecil, tidak lama setelah revolusi baru selesai. Sejoli, ini adalah potensi asmara penuh keringat dalam film neo-noir tadi, sebuah tempat minum-minum yang selalu ramai karena menjual arak termurah di Sentrapolis.
Lagi-lagi bagiku, Indonesia dalam Arkipelagia adalah tanah yang dikeruk, terus diperkosa oleh para penguasa rakus. Saya membayangkan album ini adalah sebuah film neo-noir: ada orang orang yang harus bersiasat dalam krisis bumi yang mengubah temperatur dan membuat kemarau dan musim hujan datang di waktu kalender yang ganjil. Tentu, ini lebih berupa cerita perlawanan-perlawanan rakyat yang berlangsung di lorong-lorong gelap dan terowongan bawah tanah. Para penguasa semakin gemuk hingga agak rabun dan tuli, warga berkumpul di ruang-ruang gelap untuk saling menguatkan lewat musik, puisi, dan arak murah sambil menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali ke permukaan. Mereka tak lupa mengisi lumbung-lumbung padi, mempersiapkan diri untuk hari yang lebih keras, mana tahu perlawanan mesti dilakukan secara terbuka.
Toh, dalam mendengarkan kumpulan musik ini, ada optimisme kecil dalam hati saya—optimisme yang mengingatkan pada lahirnya karya-karya penting di masa ketika bangsa ini baru menyesap kemerdekaannya setelah 1945-49. Masa singkat itu melahirkan Chairil Anwar, Pramoedya, Usmar Ismail: para perintis yang menempuh jalan estetika dan politik dengan keberanian setara. Arkipelagia membawa gema keberanian itu.
Di negara di mana penguasa tak pernah belajar dari kesalahan masa lalu, Arkipelagia hadir sebagai pengingat sekaligus penanda: bahwa seni bisa tetap menjadi ruang perlawanan.
Paris, 14 Desember 2025