Musik, Ekstase, dan Iluminasi: Pengalaman Mendengarkan Silampukau

Pada suatu malam di tahun 2020, sewaktu saya—sebagai perantau Indonesia di Seoul, Korea Selatan—sedang cemas keluyuran di YouTube mencari “jamu kebudayaan” yang, siapa tahu, cukup mustajab untuk membantu saya menyelamatkan puing-puing kewarasan saya di tengah kepungan wabah COVID-19, saya berjumpa dengan Dosa, Kota, dan Kenangan, album karya duo Silampukau yang terbit tahun 2015. Sebagai orang yang merasa “cukup Surabaya”, kenapa baru sekarang radar budaya popular saya menangkap kelebat artefak ini? Kulit lengan ini merinding; jantung ini dag-dig-dug. Jancik! Kenapa mata saya basah waktu telinga saya mendengar bagian ini dari lagu “Malam Jatuh di Surabaya”?   

Gelanggang ganas 5:15

Di Ahmad Yani yang beringas

Sinar kuning merkuri

Pendar celaka akhir hari

Malam jatuh di Surabaya

Lagu ini mengaktifkan kembali, dalam diri saya, 100 gigabyte memori tentang cinta-benci yang menghubungkan sejarah Surabaya dan biografi saya. 

Saban hari, dengan lecut cambuk campur peluk kasih, Surabaya, Si Kota Kerja, menggembleng anak-anaknya, kandung dan tiri, menjadi pemburu duit, pemburu sukses, yang akhirnya kandas sebagai manusia-problem, seperti diingatkan oleh Silampukau melalui ”Lagu Rantau (Sambat Omah)”:

Tujuh tahun yang lalu (hanya bermodal baju dan seratus ribu)

Impian membawaku (nasib ini kuadu …)

Ke Surabaya

Berharap jadi kaya

Tujuh tahun berlalu (kota menghisapku habis)

Impianku tersapu (tubuh makin tipis)

Di Surabaya

Gagal jadi kaya (dompetku kembang-kempis)

Oh, demi Tuhan

Atau demi setan

Sumpah aku ingin

Rumah untuk pulang

Mengingat, dalam banyak kasus, “rumah untuk pulang” ternyata tak pernah ada, sebagian warga kota, meski miskin, bersikeras untuk mampir ke rumah artifisial, ke surga kimia, seperti dilaporkan oleh si pedagang minuman keras dalam lagu “Sang Juragan”: “Kadang datang juga mereka yang terpinggirkan. / Wajah kurang makan, ngotot beli minuman. / Tak habis pikir aku tiap mereka datang./ Ya sudahlah, silahkan. /”

Dalam persekongkolan dengan COVID-19, sekujur album Dosa, Kota, dan Kenangan menciptakan sebuah surga alkimia suara-suara, yang di dalamnya saya menjadi makhluk “menyala”, seorang manusia lain, yang bisa mencampur Surabaya dengan Seoul, rantau dengan rumah, isolasi dengan solidaritas. Dosa, Kota, dan Kenangan memberi saya energi untuk bertahan hidup dalam dunia kapitalis yang mengandung sebuah tarik-tambang antara peradaban dan barbarisme di atas sebuah planet yang sedang kobong.

Demikianlah, sejak sebuah malam di tahun 2020 itu, saya menjadi penggemar Silampukau. Dunia memang kecil: tak lama setelah itu, saya pun menemukan bahwa Eki Dimas Priagusta, salah satu vokalis Silampukau, ternyata adalah mahasiswa saya di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya di dekade pertama abad ini. Pertemuan tatap muka pertama kali antara saya dan vokalis Silampukau yang lain, Kharis Junandharu, terjadi pada tahun 2022, di sebuah kedai kopi di Sidoarjo, satu dari beberapa kota satelitnya Surabaya.

“Stambul” adalah titik kontak antara Surabaya, Sidoarjo, dan Silampukau. Pada Mei 2025, setelah metamorfosis dari duo menjadi orkes, Silampukau merilis bagian pertama dari album multi-volume bernama Stambul Arkipelagia. Mengapa “stambul”? Mengapa “arkipelagia”? 

Jika kita tilik sejarah modern dan kiwari tentang budaya populer di kepulauan (archipelago) bernama Nusantara lalu Hindia Belanda dan kemudian Indonesia, maka akan kita dapati bahwa sebagian leluhur intelektual dari Orkes Silampukau dan Stambul Arkipelagia adalah para pekerja teater bergenre “komedi stambul” yang berkarya di Hindia Belanda: sejak Komedie Stamboel pimpinan Yap Gwan Thay dan Auguste Mahieu pada 1891-1903 hingga The Malay Opera Dardanella pimpinan A. Piedro pada 1926-1935. 

Lahir di Surabaya pada 1891 dan hidup dinamis di Hindia Belanda sampai pertengahan dekade 1930-an, komedi stambul adalah genre teater musikal popular lintas-etnis berbahasa Melayu. Ia adalah cara pengusaha dan pekerja teater di Jawa Timur menanggapi kebutuhan baru warga kota akan “jamu budaya” peringan beban hidup dalam masyarakat yang sedang mengalami modernisasi kolonial dengan pelbagai problemnya, seperti pengisapan, penindasan, alienasi, anomi, atomisasi, dan kerapuhan identitas. Dalam pentas keliling dari kota ke kota, para pekerja komedi stambul menawarkan sebuah teater hibrida dengan menu oplosan kosmopolitan: ceritanya internasional (misalnya, 1001 Malam, Faust, dan Putri Putih Salju, The Mark of Zorro, dll.); lagu-lagu stambulnya dibawakan dengan musik keroncong, gambang kromong, atau gamelan; dramaturgi dan teknologi dramatiknya diadopsi dan diadaptasi dari Eropa; aksi panggungnya kadang melibatkan adegan duel pedang; para aktor, sutradara, dan usahawan teaternya multietnik (Eropa, Indo, peranakan Tionghoa, Jawa, Melayu, Filipina, Guam, dll.). Dari pertunjukan teater stambul, para penontonnya, yang lintas-etnis pula, memperoleh bukan hanya tontonan pelipur lara yang “baru”, “mengherankan”, dan “ramai”, melainkan juga sebuah alat untuk menjajaki berbagai identitas, membayangkan dunia-dunia alternatif, menguji batas-batas semesta kolonial. Komedi stambul pernah berperan sebagai alat bagi para warga non-elit Hindia Belanda untuk beremansipasi sebelum era subur politik pergerakan nasional. Ia juga berfungsi sebagai bentuk budaya komersial terpenting bagi para warga non-elit untuk menciptakan jenis modernitas yang menjawab kebutuhan mereka di Nusantara sebelum datangnya radio dan film.   

Pada paruh kedua dekade 1920-an, The Malay Opera Dardanella, perusahaan teater kelahiran Sidoarjo tahun 1926, memainkan peran penting dalam evolusi komedi stambul menjadi tonil. Dibandingkan dengan komedi stambul, tonil tampil lebih Barat, lebih intelektuil, lebih modern. Di tangan Dardanella, tonil bekerja bukan sekadar sebagai mesin pengaduk emosi penonton, tetapi juga sebagai kritik sosial, pembentuk identitas individu, dan pembangkit kesadaran nasional. Ini semua adalah bahan-bahan bagi para penonton untuk membangun rumah psikis, rumah sosial, dan rumah politik di dunia modern. 

Sejak 1963, setelah Papua Barat resmi menjadi bagian dari Indonesia, rumah-rumah itu telah berdiri: di arkipelago yang membentang dari Sabang sampai Merauke, ada individu-individu Indonesia; ada bangsa multietnik Indonesia; ada Republik Indonesia. Namun, bagi cukup banyak manusia di dalamnya, arkipelago ini—walau sudah mengalami deret metamorfosis dari kolonialisme, revolusi, dan demokrasi parlementer sampai demokrasi terpimpin, orde baru, dan reformasi—masih terasa sebagai house belaka, atau bahkan puing-puing, belum menjadi home sejati. Perjuangan jauh dari kelar. 

Pada 2025, Orkes Silampukau asal Surabaya seperti sedang melanjutkan permainan, petualangan, dan perjuangan yang sudah dirintis pada dekade 1890-an sampai dekade 1930-an oleh Komedie Stamboel asal Surabaya dan juga The Malay Opera Dardanella asal Sidoarjo. Dengan album Stambul Arkipelagia, Orkes Silampukau menyajikan dramatisasi musikal dan kritik sosial atas negara-negara pseudo-demokratis dan sok modernis sebagai “Arkipelagia”, negara-bangsa maritim tropis yang para penduduknya mengalami “distopia terburuk”, sebuah kondisi darurat yang menyatakan diri dalam krisis ekonomi, krisis reproduksi biologis, pemanasan global, kecemasan politik, kekerasan massa, dan teror negara. 

Orkes Silampukau tampaknya menyadap ruh dan strategi komedi stambul dan tonil untuk menciptakan apa yang mereka namakan musik fusion folk. Ini tidak aneh sebab Kharis Junandharu pernah beberapa tahun menekuni teater mahasiswa di Universitas Airlangga, Surabaya sebagai, antara lain, sutradara dan penata musik. Seperti para pekerja Komedie Stamboel yang mengoplos berbagai unsur dramatik, musikal, dan sastrawi dalam pertunjukan-pertunjukan mereka, Orkes Silampukau dalam Stambul Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2 memasak gado-gado musikal dengan mencampurkan gypsy, blues, melayu, ragtime, country, dan tango. Seperti para pekerja The Malay Opera Dardanella yang menggunakan teater sebagai sarana untuk menghibur penonton dan sebagai perkakas intelektual untuk perubahan sosial, Orkes Silampukau, melalui Stambul Arkipelagia, melakukan dua kerja: 1) menghibur para pendengar dengan eksperimen musikal dengan derajat keterampilan dan keberanian yang mengundang perbandingan pada eksperimen Rhoma Irama dalam semesta dangdut di dekade 1970-an dan 1980-an; 2) membagikan kritik atas kontradiksi-kontradiksi dalam berbagai modernitas yang mengejawantah di negeri-negeri Selatan Global. 

Bagaimana kinerja Stambul Arkipelagia dalam menjalankan dwi-tugas itu? Sebagai pendengar amatir-primitif, saya menangkap kesan bahwa Vol. 1 menggarap proses pemanasan. Sebagai kamera sosial, lagu-lagu di dalamnya tampil prima; sebagai aksi penghiburan, mereka tampil OK. Bagaimana pun, saya menaruh respek pada keberanian Orkes Silampukau mengambil langkah riskan bereksperimen. Sukses album Dosa, Kota, dan Kenangan pada 2015 mungkin datang bersama dengan godaan bagi Silampukau untuk mencetak sukses bagi album berikutnya dengan mengulang-ulang jurus-jurus yang sudah membuahkan Dosa, Kota, dan Kenangan. Kalau diikuti, godaan ini bisa mengubah si pemusik menjadi sekadar mesin musik. Syukurlah. Silampukau coba menghindari kutukan yang sering menghantui keberhasilan itu dengan mengubah diri. Mereka berganti strategi kreatif, yang boleh diperbandingkan dengan strategi komedi stambul membarui diri menjadi tonil. 

Dibandingkan dengan Vol. 1, Vol. 2 Stambul Arkipelagia adalah seekor “binatang” yang sungguh berbeda. Lagu-lagu di dalamnya memberi saya momen-momen eksplosif, buah chemistry antara ekstase musikal dan iluminasi sosial. Pengalaman seperti ini saya peroleh dari, misalnya, lagu “Jurang Kemiskinan 2: Saga Khatulistiwa”, yang bercerita tentang situasi homo homini lupus

Kususun tangga dari mayat sanak-saudara

lazimnya tradisi Arkipelagia.

Kupanjat tangga dari mayat sanak-saudara

di kaki tebing neraka.

[…] 

Ai, kita semua,

selama-lama-lamanya bersabung

di Saga Khatulistiwa! 

Momen-momen ekstase-iluminasi yang saya alami ketika mendengarkan baik Stambul Arkipelagia Vol. 2 maupun Dosa, Kota, dan Kenangan adalah jejak-jejak dari sebuah energi kreatif yang meniupkan roh pada komponen “-pukau” dalam nama Silampukau. 
Pada suatu hari, mungkin melalui oplosan yang terbuat dari musik teatrikal StambulArkipelagiaVol. 1-3 dan berbagai artefak budaya lainnya, kita akan terbang menuju sebuah ruang istimewa, tempat kita bisa melihat potret-potret sinar-X tentang kondisi psikis dan sosial kita dan menangkap energi “mesianik” untuk membebaskan diri dari struktur diabolik yang kini mengungkung kita.

Seoul, 14 Desember 2025