Mendengarkan lantunan Stambul Arkipelagia rasanya seperti menerima kabar dari seorang kawan lama. Saya tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan apa yang saya rasakan ketika menikmati lantunan “kabar” itu lekat-lekat. Saya bukan seorang pakar musik. Bukan pula seorang veteran penonton konser yang bisa secara fasih menceritakan pengalaman berada di puncak kenikmatan ketika dimanjakan oleh nada, irama, dan dentuman racikan idola. Saya bahkan tidak pernah mengidolakan satu orang pun musisi (apalagi politisi) di sepanjang hidup yang sudah tidak muda ini. Yang jelas, lagu-lagu dari Arkipelagia ini, termasuk di volume terbarunya, bisa menghubungkan saya dengan seorang kawan lama yang entah siapa namanya. Tapi saya seakan tahu karakternya, latar belakangnya, mungkin juga rahasia hidupnya:
Seorang kawan yang sudah lama berjuang. Mungkin ia lelah bukan kepalang, tapi ia bertahan sambil berbisik pada diri sendiri, “musti sehat musti kuat,” karena “berpasrah pada angin, pada segala mungkin,” gerutunya, “cuma bikin masuk angin.”
Seorang kawan yang bergulat dengan hilangnya cahaya di tengah ekonomi yang pelik dan panjangnya paceklik. Di mana ia memeluk erat perihnya cinta di balik pahitnya mesiu euforia tahun baru. Kawan yang berbicara lewat blues karena serpihan memori kolektif hanya bisa hidup dalam kata-kata berirama yang terdengar dari ladang-ladang komunal, dari alun-alun kota di mana rakyat melepas pekat, dari warung-warung kopi yang diisi obrolan-obrolan revolusi, dari lumbung-lumbung padi masyarakat adat, dari dapur-dapur umum dan kerja-kerja reproduksi, dan di sela-sela rapat genting warga di gang-gang sempit yang sebentar lagi digusur walikota—jauh tertanam di dalam ingatan yang dijaga oleh perlawanan akar rumput.
“Duka yang panjang, ai puan, semesta menghilang. Piara ingatan ya, puan, indung disayang.” Tolaklah lupa, ai nona, akan tumpukan sejarah yang terpendam di “halimun rahasia historia,” raib bersama teluk, rimba, dan jutaan nyawa manusia.
Ya, ia kawan yang luar biasa hebat. Bukan perkasa ataupun bahagia, karena kerja untuk kapital sudah mengasingkannya dari segala yang manis dan bernas, menguras seluruh tenaga, jiwa, dan raga. Tapi ia hebat. Hebat dalam ketekunannya untuk mencari: mencari jalan, mencari kawan, mencari ruang-ruang baru yang bisa ditelusuri bersama kawan-kawan lain untuk kemudian membangun sebuah masa depan. Semua mereka perjuangkan meski konon di Arkipelagia, semua orang suka “cari selamat sendiri-sendiri,” karena begitulah nasib sebuah negeri yang masih percaya takdir dan gemar mengigau kodrat. Penderitaan dunia sudah tersurat, namun keadilan tunggu binasa: you’ll get pie in the sky when you die.
“That’s a lie!,” Joe Hill mengingatkan di awal abad kedua puluh. Tidak ada itu namanya kue pai di langit yang kau lahap setelah modar. Workingfolk of all countries unite. Side by side we for freedom will fight. Kemerdekaan haruslah kita perjuangkan bersama, selagi paru-parumu masih bekerja dan tak habis digerus polusi industri. Maka itulah yang kawan saya lakukan.
Dan ia bersama komunitasnya betul-betul gigih—pantang menyerah bahkan ketika mereka tiada henti dikejar-kejar “bayang-bayang iblis” yang bengis di Sentrapolis. Karena kabarnya perjuangan-perjuangan berbahaya di Arkipelagia lazim dicegat malapetaka bersepatu lars yang kerap “menyeringai sadis”: jagal-jagal penguasa yang siap membawa mereka ke neraka, agar pengusaha dan negara bisa terus bercinta dengan leluasa di atas ranjang yang dibentangkan raksasa-raksasa dunia Utara.
Begitulah kira-kira.
Dan ketika Silampukau melantunkan “kabar” dari Arkipelagia, kawan ini menyapa saya begitu mesra dan bertanya sepenuh hati, “Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana perjuanganmu di sana? Tidak apa bila kau lelah. Dunia kita mungkin tak serupa, tapi kita berbagi semesta yang sama.” Semesta yang hancur berantakan dikoyak oleh segala rupa keburukan dan keputusasaan: “seperti malam manakala rembulan menghilang dan maut kian mengundang.”
Semesta yang meredup serta gelisah nan menjadi-jadi. Gelap dan gulana berkecamuk dalam alunan yang membawa saya, seorang penyendiri si paling khatam mantra-mantra pengusir hingar bingar, menemukan lagi arti persahabatan lewat bait-bait lantang yang menyalakan api-api gerilya tanpa keraguan. Kadang api itu menghangatkan, kadang membara meletup-letup. Persis seperti berbagai jenis tembang yang ditawarkan Silampukau di volume ini. Api perlawanan tak harus seragam bentuknya. Tapi ia dibakar oleh amarah yang semakin lama semakin matang, menempa taktik-taktik perjuangan yang akan melumpuhkan para penindas.
Melalui gelap dan gulana itu pula dua jiwa kini kian terhubung, dari dua tempat yang berbeda. Terpisahkan oleh ruang dan waktu, disatukan oleh perlawanan yang tumbuh dari ketidakberdayaan, dari dendam, dari mimpi dan angan-angan, atau mungkin, dari sesuatu yang sangat mendasar: dari sebuah pemikiran bahwa kesetaraan bukanlah sebuah ide yang muluk, bahwa setiap orang berhak menjadi manusia seutuhnya—“a rich human being”—tulis Karl Marx, “in which objective wealth is there to satisfy the worker’s own need for development.”
Untuk Silampukau: terima kasih sudah menghubungkan saya dengan ia yang amat saya rindukan—kawan lama yang tak pernah gentar meski “maut kian benderang”—melalui lantunan yang indah dalam suram, begitu berani dan tajam menusuk relung-relung tirani. Panjang umur perlawanan.
Illinois, 3 November 2025