Gelagat Nada-Nada Agonia

Kegetiran, kengerian, sekaligus sempoyongan. Kurang lebih tiga kata tersebut cukup untuk memijak pada dasar perenungan album Stambul Arkipelagia, Vol.1 garapan Silampukau. Sebuah album yang sejenak terasa seperti menyaksikan lakon namun dalam konteks auditif. Bagaimana tidak? Sebab alur dan tema yang digarap pada album ini tampak runut bagai rentetan episode dongeng musikal.

Lagi-lagi, Silampukau berhasil untuk memuat bunyi-bunyian yang menggelitik penggemarnya. Alam berpikir kita terasa seperti diobok-obok setelah 10 tahun lalu album Dosa, Kota, & Kenangan (2015) diperdengarkan; sebuah album yang menyarikan Surabaya beserta seluruh drama sosial-budaya dan permasalahan sehari-hari. Lantas, kemampuan Silampukau dalam mengartikulasikan masalah sehari-hari yang kerap kali terabaikan, pun juga receh (namun sangat berarti untuk dimaknai) masih menjadi daya pikat yang candu bagi pendengarnya.

Stambul Arkipelagia, Vol.1 merupakan buah dari rekayasa imaji tentang sebuah negara maritim yang seolah menuju ambang apokaliptik. Permasalahan sosial-politik dan kultural pada negeri fiktif tersebut dikemas dalam komposisi musik dengan menggunakan kode-kode simbolik yang memiliki arti tertentu. Secara warna musik (saya agak ragu menyebutnya genre) idiom musik yang dipakai masih tidak jauh dari seputaran Gypsy; meski agaknya ada upaya untuk menyamarkan warna “genre” tersebut. Saya rasa, langkah penyamaran warna gypsy tersebut merupakan suatu upaya bagi Silampukau untuk melakukan beberapa eksperimentasi musikal. Dan hal itulah yang penting untuk disoroti pada album ini, yakni Eksperimen!

Di album ini, percobaan eksperimentasi tersebut mencakup: eksplorasi soundscape; eksplorasi teknik komposisi; kawin silang gypsy, melayu, ragtime, country, dan blues; hingga interpretasi musik zaman impresionisme yang diutak-atik pada kadar kekinian (sebut saja populer). Maka dari itu penting untuk membedah sejauh mana percobaan itu dilakukan oleh Silampukau. Secara keseluruhan, bagaimana imaji tentang sebuah negeri yang dedel-duel, penuh amarah, dan putus asa, dikemas dalam balutan musik dengan nuansa balada?

Sejoli: Kesinisan Dalam Riuh Orkes

Grande. Terminologi tersebut menjadi kata kunci untuk membuka album ini melalui dua track awal, yakni: 1) Sejoli, dan; 2) Sejauh’Ku Memandang (Paceklik Blues). Selayaknya gending Srempeg pada babak perang pertunjukan wayang kulit yang bertensi tinggi, padat, dan juga terkesan chaos, kedua track tersebut terasa seperti tamparan. Misterius, mencekam, namun megah dan juga flamboyan.

Kali ini Silampukau (sepertinya) mulai mencoba untuk menyamarkan idiom gypsy yang selama ini melekat dengan identitas mereka. Karakter gypsy di lagu ini masih terasa ketika kita memperhatikan kembali pola drum yang memakai pendekatan ritme polka dan juga bassline yang memainkan walking 1/4 dengan menggunakan interval quinte. Selanjutnya, karakter drum dan bassline yang masih tercium aroma gypsy-nya tersebut dioplos dengan beberapa pendekatan idiom musik lain. Ramuan oplosan yang dipakai terdiri dari: gaya musik melayu, tango, gypsy, dan sedikit “bumbu” impresionisme Prancis. Idiom dari masing-masing musik tersebut dicomot lalu ditempatkan pada tiap instrumen. Kurang lebih seperti itulah cara Silampukau melakukan penyamaran gypsy yang selama ini melekat dengan karakter musik mereka.

Secara teknis, komposisi lagu Sejoli disusun dengan menggunakan beberapa layer instrumentasi yang membuat orkestrasi dari lagu ini terdengar cukup kaya. Jika rhythm section (drum-bass) masih memegang dasar-dasar gypsy pada pola ritmenya, maka berbeda dengan dengan instrumen harmoni (piano-gitar) yang mengoplos beberapa elemen musik lain sebagai ramuannya. Piano dan violin memainkan pola melodi secara unisono dengan gaya scale tango. Tidak hanya pada konteks pola melodi saja, aroma musik tango tersebut masih tercium pada konteks voicing serta ritmis dari akor tersebut. Maka tidak heran jika terasa seperti mendengar gypsy, pun juga seperti bukan gypsy karena ada unsur musik tango di dalamnya.

Setelah mengalami perjumpaan dengan oplosan gypsy-tango, telinga kita akan terdistraksi dengan sentuhan melayu yang tiba-tiba muncul di tengah lagu. Nada pada isian accapela vokal di bagian “lai, lalai, lai, lai!” cukup membuat telinga menjadi mendadak melayu. Sembari di saat yang sama nada tersebut diiringi dengan iringan gypsy-tango. Sekilas saya membayangkan komposisi ini seperti makanan Gado-Gado. Gypsy sebagai lontongnya, tango sebagai sambal kacangnya, dan melayu sebagai sayurannya.

Impresionisme dimunculkan sekilas pada bagian solo violin sebelum lirik “Amboi, garis dua!”. Tensi dan dinamika pada bagian ini sengaja diturunkan guna mempertegas melodi violin yang menjalankan tugasnya sebagai leitmotif. Pergerakan orkestrasi semacam ini merupakan hal yang lazim pada budaya musik impresionisme. Khususnya komposisi impresionisme karya Erik Satie yang sering dicap musik transenden atau mistisisme. Hal ini lantaran karakteristik karya Erik Satie bermula pada sesuatu yang arkais dan sederhana lalu berkembang memunculkan elemen bunyi yang dominan (Prier & Mack, 1991). Dan jurus inilah yang dipakai oleh Silampukau pada bagian ini. Dengan diturunkannya dinamika serta melodi yang menonjol, maka bagian ini menjadi gradasi yang baik untuk kembali ke dinamika forte pada bagian chorus Amboi, garis dua!

Dimulai dengan intro yang grande, lalu dipertemukan dengan perkawinan silang gypsy dan tango, setelah itu di tengah jalan mendadak kesurupan Erik Satie, lalu kembali lagi ke gypsy-tango namun dengan sentuhan melayu yang riuh. Saya rasa track pertama ini menjadi awalan yang menarik untuk mengantarkan kita pada perjalanan dongeng musikal album ini.

Sejauh’Ku Memandang (Paceklik Blues): Kaki-Kaki Yang Penuh Dendam

Lagu kedua Sejauh’Ku Memandang (Paceklik Blues) masih berada pada pemaknaan “grande” sebagai akad dari dongeng Stambul Arkipelagia, Vol.1. Secara komposisi tidak begitu berbeda dengan lagu pertama, Sejoli. Pendekatan dan idiomnya berada pada area gypsy, country dan blues. Bassline masih memainkan peran jaga gawang ritme gypsy-blues. Drum memainkan pola yang tidak neko-neko selayaknya gaya bermain blues rockabillly; terlebih dengan pemilihan sound serta tuning yang kental dengan nuansa vintage (low tune, basah, serta bunyi cymbal yang gelap). Dan yang terakhir, gitar memainkan genjrengan dengan menggunakan pendekatan gaya musik country.

Yang menarik dari lagu ini adalah permainan simbol bunyi. Pada bagian chorus terdapat bunyi yang terdengar seperti hentakan kaki di lantai kayu. Hampir sama seperti Tap Dance, namun tidak dengan ketukan serapat tarian tersebut. Hantaman sol sepatu yang keras pada lantai kayu memberi kesan sendiri. Bunyi tersebut seolah mengisyaratkan chant yang mengandung kekesalan dan amarah. Hentakan kaki sebagai simbol kekesalan sepertinya cukup sering kita jumpai dalam adegan film.

Dari bentuk komposisi serta penulisan liriknya, dua lagu ini (Sejoli dan Sejauh’Ku Memandang) saya rasa menjadi petunjuk awal untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di negeri Stambul Arkipelagia. Jika memang diniati demikian, apakah Silampukau berhasil memberikan pengantar yang apik? Apakah visualisasi secara auditif dari dongeng mereka berhasil? Jika berhasil, apa yang dibayangkan pendengarnya? Mari kita renungkan!

Jurang Kemiskinan 1 (Dodoi): Sambatan Apa Adanya

Setelah disuguhi musik oplosan gypsy, melayu, country, dan blues yang dar der dor, telinga kita diajak terjun bebas untuk menyelami kontemplasi yang nelangsa. Jika dua lagu awal berkonotasi marah dan juga kesal, maka berbeda dengan lagu ketiga ini yang terasa seperti sambatan. Bahkan bisa jadi rintihan. Mari kita coba bedah hal itu dari segi komposisi musiknya.

String memainkan trill dengan pemilihan harmoni yang membuat pendengar merasa kebingungan. Register bawah (contrabass) memainkan pedal point secara lembut serta misterius di satu nada Dm. Sementara register treble clef alto-soprano (viola-violin) memainkan counter-point dengan nada dan dinamika naik-turun (sforzandopiano) sebagai rajutan keseluruhan harmoni string section yang melas. Secara keseluruhan, di lagu ini instrumen string menjalankan tugas sebagai layer.

Selain instrumen string, ada bunyi glissando dari harpa sebagai pemanis, dan juga bunyi roll cymbal yang dimainkan dengan dinamika crescendo sebagai pelengkapnya. Susunan orkestrasi tersebut berperan sebagai pengiring gitar dan vokal yang menjadi elemen paling menonjol dari lagu ini. Meski lagu ini terdengar seolah-olah seperti “jatahnya” gitar-vokal, namun sesungguhnya hal yang paling penting adalah pada string section itu sendiri. Pendengar dapat tidak merasakan kegetiran yang nelangsa jika tidak didukung dengan pola harmoni serta dinamika string yang mencampur aduk perasaan pendengar dengan trill dan counter-pointnya (rajutan antar nada). Ditambah lagi dengan gaya vokal Kharis yang tidak seperti bernyanyi, melainkan bercerita; bisa jadi berdoa sesambatan. Lantas hal tersebut semakin menambah kesan melas dari lagu ini.

Lagu ini membawa kita pada pemaknaan yang serba tidak pasti. Bingung. Bagaimana nasib negeri tersebut? Ketidakpastian semacam itu dalam teknik komposisi musik disebut dengan Aleatori. Singkatnya, aleatori merupakan musik yang dibuat dengan probabilitas bunyi yang banyak. Seperti layaknya melempar dadu. Kemungkinan untuk terjadi perubahan bunyi dan bentuk sangatlah besar. Hal ini tergantung pada penotasian dan interpretasi penyajinya (Dallin, 1974). Contoh sederhana dari pendekatan teknik ini adalah musik jazz. Musik jazz lazimnya memiliki bagian solo instrumen yang condong dengan improvisasi. Satu lagu jazz yang sama, akan memiliki bentuk yang berbeda-beda ketika bagian solo (improvisasi) dimainkan. Bunyi dan bentuk pada improvisasi tersebut tidak akan sama. Tergantung musikalitas dan interpretasi yang memainkannya. Beda pemain, beda bunyi. Kurang lebih seperti itulah musik Aleatori. Tidak pasti.

Sialnya, lagu ini digarap dengan pendekatan tersebut. Sebuah kesengajaan yang cerdik! 

Proses penggarapan lagu ini menggunakan pendekatan Aleatori. Terinspirasi dari Musical Dice Game ala Mozart. Pendekatan tersebut dipakai ketika Silampukau menulis bagian String di intro lagu. Namun, Silampukau mencoba pendekatan ini pada tingkat produksi. Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah: apakah aleatori ini akan dipakai pada konteks penyajiannya? Kita lihat saja nanti ketika lagu ini dibawakan oleh Silampukau di pertunjukannya.

Setidaknya lagu yang terasa seperti kebingungan ini, digarap dengan teknik komposisi yang bingung juga. Sungguh sebuah keseimbangan yang serasi.

Prelude Al-Muqawin: Tentang Suatu Keputusan

Selanjutnya, track Prelude Al-Muqawim. Ini track yang menurut saya adalah yang paling menarik. Meski mungkin bagi sebagian pendengar akan terasa sulit untuk menemukan di titik mananya yang menarik. Track ini meniadakan semua unsur musik konvensional yang cukup kecanduan dengan instrumen musik. Tidak ada bunyi instrumen musik—bahkan lantunan lirik—di track ini. Saya rasa Silampukau cukup berani untuk bereksperimen dengan soundscape sebagai kode simbolik. Soundscape tersebut meliputi bunyi bisikan detik jam, nafas orang yang terengah-engah, langkah kaki sempoyongan yang seolah seperti berjalan di lumpur (atau entah apa itu), angin, dan ombak laut yang lirih. Semua bunyi tersebut dirancang sebagai suatu komposisi yang dilapisi dengan bunyi synth-pad yang gelap dan tipis. Adonan bunyi tersebut memberi ruang sebebas-bebasnya bagi pendengar untuk menginterpretasikan seluruh cerita dari drama gonjang-ganjing negeri fiktif Stambul Arkipelagia.

Sepertinya kita perlu melihat track ini secara serius. Meski hanya bunyi-bunyian saja, atau istilah umumnya adalah sound design, kita perlu menempatkan elemen soundscape tersebut sebagai salah satu gagasan penting dalam dunia pengkaryaan seni musik secara umum. Mengapa soundscape begitu penting untuk ditempatkan sejajar dengan musik konvensional? Saya teringat kutipan dari teks Richard Muray Schafer yang berjudul The Soundscape: Our Sonic Environment and the Tuning of the World (1993).

“The home territory of soundscape studies will be the middle ground between science, society and the arts […] From society we will learn how man behaves with sounds and how sounds affect and change his behavior. From the arts, particularly music, we will learn how man creates ideal soundscapes for that other life, the life of the imagination and psychic reflection.” (Schafer, 1993)

Pada wilayah seni yang diwakilkan oleh musik, musik akan menjelaskan subyektivitas yang meliputi refleksi personal dan imajinasi dari pengalaman mendengarkan bunyi tersebut. Maka dari sini dapat dilihat bagaimana bunyi mampu menciptakan pengalaman estetik manusia bersamaan dengan kesadaran personal yang subjektif. Setidaknya pandangan tentang soundscape inilah yang dapat menjadi jalan tengah untuk membaca kode-kode yang disematkan oleh Silampukau. Track ini seolah menjadi kompas untuk menentukan akan ke mana perjalanan dongeng Stambul Arkipelagia. Keputusan apa yang akan diambil dari tragedi-tragedi yang sudah dilantunkan pada tiga track sebelumnya.

Lantas itulah mengapa track ini berjudul “Prelude” yang mana memiliki arti “Pendahuluan”. Saya justru merasa bahwa track inilah yang menjadi titik awal cerita dari perjalanan Stambul Arkipelagia ke depan; entah nantinya akan sampai pada volume ke berapa dengan total berapa karya musik.

In Memoriam… (Halimun Rahasia): Folk Yang Pesimistik

Hidup harus berlanjut bagaimanapun caranya. Satu kalimat yang mungkin bisa mewakili untuk merenungkan track terakhir di album ini. Memang terkesan cukup pesimistik. Namun kita harus sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh seorang filsuf idealisme asal Jerman, Arthur Schopenhauer tentang pesimisme:

Dari setiap peristiwa dalam hidup, kita dapat mengatakan untuk sesaat bahwa beginilah adanya; sedangkan untuk yang telah berlalu lama, demikianlah adanya.” (Schopenhauer, 1891)

Lantas dari sinilah kita bisa menerka akan ke mana arah dari cerita negeri fiktif ini di Vol.2 nanti. Gairah perlawanan seperti apalagi yang akan dihayati. Namun yang pasti, tetap melawan meski tahu akan mati.

Secara komposisi, track terakhir ini cukup berbeda dari ketiga track di awal album. Satu-satunya track yang menggunakan compound time signature, secara spesifik 6/8. Intro lagu ini hanya menggunakan dua progresi akor saja yang cenderung kembali ke tonal center (Do).  Saya rasa hal tersebut sebagai penggambaran atas perjuangan yang akan terus diulang-ulang meski terasa sempoyongan.

Progresi tema (verse-chorus) pada lagu ini cukup banyak menggunakan pergerakan harmoni kromatis. Alm. Slamet Abdul Sjukur menyebut nada kromatis ini dengan istilah “nada gadungan” lantaran berada di luar jalur sistem tangga nada diatonis; bersifat sebagai sisipan di sela-sela sistem tangga nada. Pemilihan gerak harmoni kromatis tersebut bagaikan sebuah perjalanan yang perlahan-lahan melangkah meski sering oleng. Sebuah langkah yang sedikit demi sedikit memberi makna akan adanya sebuah keajaiban suatu saat nanti.

Saya kurang tahu pasti apa yang dipikirkan oleh teman-teman Silampukau ketika memasak lagu ini. Mengapa pemilihan warna musiknya cenderung berbeda dari ketiga track awal? Bisa jadi ini memang track yang disengaja dibuat berbeda guna melakukan eksplorasi gagasan musik lain; di luar ke-gypsy-an ala Silampukau. Lantas jika memang ini merupakan “lahan” eksplorasi, saya rasa Silampukau agak malu-malu untuk melakukan eksplorasi yang lebih jauh lagi; bahkan lebih berani.

Pendekatan unsur musikal (terutama struktur harmoni) sebenarnya tidak begitu jauh dari impresionisme yang dalam sejarahnya memang lahir di Prancis pada abad 19/20. Antara tidak begitu jauh atau memang mengarah ke sana. Impresionisme menjadi satu era khusus dalam sejarah musik eropa yang mana pada era tersebut ditandai dengan gerakan simbolisme sastra dan seni rupa. Era musik ini dimulai ketika tren seni rupa saat itu berangkat pada penafsiran spontan suatu objek. Itulah mengapa dalam konteks penggagasan ide artistiknya, para komposer impresionis kala itu seperti Claude Debussy dan Maurice Ravel cukup gemar dengan dunia imajinasi serta alam bermain anak-anak. Karena bagi mereka spontanitas alam imajinasi anak-anak merupakan keindahan murni yang apa adanya. Alias spontanitas yang jujur.

Penggunaan idiom ritmis pada tradisi tari, harmoni yang menolak tradisi kuno (diatonis), eksplorasi warna suara dan instrumentasi, merupakan beberapa kata kunci untuk membedah musik impresionisme (Prier & Mack, 1991). Hanya saja para komponis Prancis melakukan “pendobrakan” tradisi musik klasik tersebut dengan cara yang cukup ugal-ugalan; mengingat saat itu Prancis berperan sebagai melting pot untuk perkembangan dunia filsafat, seni, dan sastra di Eropa.

Pada konteks lagu terakhir di album ini, saya merasa upaya eksplorasi tersebut agak nanggung. Meski ada upaya untuk menuju ke arah tersebut. Silampukau bermain pada ruang aman untuk melakukan beberapa eksplorasi. Namun gagasan konteks karya pada bagian ini masih sejalan dengan bagaimana cara impresionisme melahirkan produk-produk seni saat itu, yaitu kesan rahasia dari jaringan konteks ruang-waktu dengan penyimbolan-penyimbolan elemen artistik.

Secara umum (setidaknya ini yang saya tangkap) eksplorasi yang dilakukan oleh Silampukau berada pada area: time signature, gerak harmoni, dan interpretasi nuansa. Time signature yang dipakai masih relatif “pasaran” karena masih cukup dekat dengan ritme slow rock, waltz, dan blues. Mungkin jika lebih berani lagi, eksplorasi time signature merupakan “lahan basah” lantaran banyak sekali kemungkinan ritmis yang bisa digali. Ada time signature 5/4, 5/8, 7/4, 9/8, 15/16, dan lain sebagainya.

Sedangkan pada konteks gerak harmoni, Silampukau malu untuk mengembangkan atribut-atribut harmoni yang lebih kompleks. Misalnya seperti pemakaian akor inversi, akor root-less, modes scale, harmoni paralel, whole tone, dan sebagainya. Karena jika memang benar Silampukau ini menginterpretasikan impresionisme Prancis, maka hal itu yang lazim oleh dilakukan oleh komposer impresionisme kala itu. Lalu pada konteks nuansa musiknya, saya rasa lagu ini ada tendensi untuk mengarah ke folk music (musik rakyat). Saya kurang tahu pasti musik rakyat dari mana yang menjadi ide dari komposisi lagu terakhir ini; dan rakyat yang seperti apa. Lantas mari kita bedah perihal musik folk yang menjadi agama musiknya Silampukau.

Stambul Arkipelagia: Musik Folk Dalam Imaji

Secara aliran, kita mengenal Silampukau sebagai band dengan mengusung folk music sebagai agama mereka. Jika kita mencari definisi musik folk, maka secara sederhana kita akan mendapati istilah “musik rakyat” dari pendefinisian tersebut. Lantas makhluk seperti apakah musik folk itu sendiri?

Musik folk bukanlah sekumpulan lagu dan nada. Ia lebih pada sebuah praktik kerja. Orang-orang mengambil sumber daya musik yang tersedia, lalu dikembangkan dengan berbagai cara yang musikal untuk dapat dimanfaatkan sebagai sebuah bentuk/praktik musik ataupun budaya (Slobin, 2011). Di balik gagasan musik ini, terdapat tujuan serta alasan untuk memberikan ruang pada musik folk sebagai bagian dari hidup serta energi masyarakat yang mengelilinginya. Penyanyi atau pemusik folk biasa membuat musik untuk menunjang praktik kerja agraria, untuk membesarkan anak-anak dan menjaga ikatan keluarga, untuk menyuarakan keyakinan, harapan, dan identitas mereka.

Komposisi garapan Silampukau pada album ini memang cukup membingungkan jika kita berusaha mencari bentuk asli dari sumber ide musik mereka. Mau dikatakan gypsy tapi bukan gypsy, tango tapi bukan tango, impresionisme tapi nanggung. Kita kesulitan untuk mencari justifikasi musik folk apa dan dari mana yang ada di album ini. Terlebih jika itu ditelusuri secara etnomusikologi. Namun inilah kunci dari semua tujuan eksplorasi musik tersebut.

Kita tahu bahwa Stambul Arkipelagia merupakan sebuah negeri fiktif. Seperti layaknya sebuah negeri pada dunia nyata, Stambul Arkipelagia juga memiliki wujud masyarakat, geo-sosial, dan juga geo-politik. Namun dalam tingkat imajinasi (isi kepala). Maka dari itu, gagasan musik folk pada album ini merupakan bentuk sah dari musik folk milik negeri Stambul Arkipelagia. 

Saya rasa ini merupakan cara yang cukup cerdik untuk melakukan elaborasi musik dari berbagai idiom. Silampukau seperti tidak memiliki tanggung jawab untuk menjawab dari mana sumber musik folk itu muncul? Alih-alih mempertahankan keotentikan sumber aslinya, Silampukau memilih untuk mengembangkan dan mengobok-obok sumber tersebut menjadi sebuah musik baru. Musik baru tersebut menjadi dalih bahwa inilah musik folk asal Stambul Arkipelagia, sebuah negeri dalam imaji, pun juga musiknya, Folk dalam imaji.

Akhir Babak Stambul Arkipelagia, Vol.1

Kita masih menunggu apakah akan ada babak kedua untuk dongeng musikal Stambul Arkipelagia. Mengingat ada embel-embel “Vol.1” pada album ini maka saya rasa akan ada lanjutan dari cerita negeri fiktif yang carut marut, pun juga gonjang-ganjing ini. Sebagai pendengar, kita akan disajikan dengan musik yang entah akan seperti apalagi bentuknya, dan juga adonan musik macam apalagi yang akan menjadi sajian yang akan dihidangkan oleh Silampukau.

Apakah dongeng tentang negeri fiktif ini akan selesai sampai track In Memoriam… (Halimun Rahasia)? Justru inilah permulaan. Bagaimana kelanjutan kemelut geger geden Stambul Arkipelagia? Kita semua menantikannya!

Referensi:

Dallin, L. (1974). Techniques of Twentieth Century Composition: A Guide to the Materials of Modern Music. In: Brown Company Publishers.

Prier, K. E., & Mack, D. (1991). Sejarah Musik. Pusat Musik Liturgi. 

Schafer, R. M. (1993). The Soundscape: Our Sonic Environment and the Tuning of the World. Simon and Schuster. 

Schopenhauer, A. (1891). The Essays of Arthur Schopenhauer; Studies in Pessimism (K. Maqin, Trans.). Antinomi Institute. (Tentang Pesimisme)Slobin, M. (2011). Folk music: A Very Short Introduction. Oxford University Press.