Stambul Arkipelagia dimaksudkan sebagai kesaksian atas sebuah lanskap ekstraktif yang menyaru sebagai negara—sebuah ruang di mana pelbagai permasalahan struktural dan sistemik tidak pernah benar-benar diselesaikan, melainkan tampak sengaja dipelihara, semata karena menguntungkan segelintir elit di dalamnya. Proyek ini memosisikan diri sebagai kelanjutan ikhtiar panjang para musisi dan sastrawan yang terus-menerus mencari bahasa paling artikulatif untuk merekam penderitaan dari masa ke masa.

Jantung kekaryaan ini adalah ‘stambul’, kepingan sejarah kebudayaan modern bangsa yang dibiarkan terbengkalai dan tak diakui. Stambul, bersama akar teaterikalnya pada Komedie Stamboel dan Dardanella, kerap dipinggirkan dan dianulir dari narasi besar kebudayaan kita, barangkali, akibat sentimen nasionalisme yang berlebihan—hanya karena para pionirnya merupakan peranakan Eropa dan Tionghoa. 

Komedie Stamboel berasal dari Surabaya, dan Dardanella—yang dianggap sebagai pelopor teater modern Indonesia oleh Jaap Erkelens—berasal dari Sidoarjo, kota tetangga. Ini bukan semata romantisme kesejarahan. Berjarak seabad dari Dardanella—bahkan lebih jika menghitung sejak Auguste Mahieu mendirikan Komedie Stamboel pada 1891—barangkali memang sudah waktunya untuk kembali menjernihkan sejarah kebudayaan dari hegemoni pusat. Bagi saya, Komedie Stamboel dan Dardanella adalah pengingat bahwa denyut hibriditas yang memelopori modernitas kesenian kita tidak dilahirkan dari pusat kekuasaan. 

Pada awal pengerjaan proyek, saya kadang berseloroh mengatakan Stambul Arkipelagia ini semacam upaya yang agak keterlaluan untuk bermain jelangkung; memanggil pulang arwah kesenian yang sempat terusir oleh ledakan gelombang nasionalisme di masa lalu untuk kemudian membongkar, memodifikasi, dan memperbaruinya. Namun sejujurnya, keberanian untuk melakukan modifikasi ekstrem itu berangkat dari satu kecurigaan yang selalu gagal untuk saya sangkal: bahwa DNA dari kesenian musik di Nusantara adalah hibriditas—perpaduan dan silang sengkarut dari seluruh tradisi serta disiplin musik dunia. 

Narasi kemurnian budaya adalah ilusi, jika tidak ingin mengatakannya sebagai propaganda semata. Hal ini terbaca jelas dalam diskursus musik kita: Irama Lenso yang digagas sebagai proyek kebudayaan pusat, pada praktiknya merupakan hibrida dari irama musik Latin. Para raksasa musik kita sejak awal juga memeluk hibriditas ini; Bing Slamet kental dengan serapan jazz Barat dan Hawaiian, Syekh bin Abdullah Albar (populer dengan nama Syekh Albar) memelopori asimilasi irama Timur Tengah melalui orkes gambus di Nusantara sejak 1930-an, dan Benyamin Sueb secara brilian membenturkan musik lokal Gambang Kromong dengan elemen blues serta rock.

Pola yang sama terjadi saat Waldjinah secara revolusioner merombak estetika gendhing Jawa lewat sistem tuning kromatis Eropa. Begitu pula dengan Campursari yang digagas sebagai entitas tersendiri; ia secara taktis menyilangkan pakem laras pentatonis gamelan Jawa dengan sistem diatonis dari instrumen elektronik Barat seperti keyboard dan gitar, menciptakan sebuah bahasa pergaulan baru yang sangat populer bagi melankolia sentimentil masyarakat berbahasa Jawa—dan kini bahkan sudah melampauinya.

Di kutub yang lain, dangdut mematangkan dirinya sebagai purwarupa hibrida yang mengawinkan ritme India dan rentak Melayu dengan efek distorsi rock ala Rhoma Irama. Dangdut secara konsisten memperbarui diri dan menyerap pelbagai unsur musik nyaris dalam tiap dekade hingga hari ini. Evolusi dangdut di era kontemporer terus berlangsung, menyerap pengaruh K-Pop, J-Pop, hingga yang terbaru, hip-hop

Pada industri musik pop, semangat hibriditas ini direproduksi secara masif—bahkan sering kali mengeksploitasi persilangan lintas genre secara terbuka demi perluasan pasar. Namun industri, bagaimanapun juga, memang memiliki perangai yang sangat beringas untuk melakukan komodifikasi, sehingga hibriditas ini tereduksi dari konteks sosialnya. Secara terpisah, pada ruang-ruang pertumbuhan skena jazz dan blues Nusantara, kita kembali mendapati pola negosiasi yang serupa; di mana idiom, struktur, dan progresi Barat terus-menerus dibenturkan dengan tangga nada, instrumen, maupun tradisi tutur lokal untuk mencari bentuk ekspresi yang relevan secara kultural dengan masyarakat kita.

Semangat hibriditas dan penolakan terhadap ilusi kemurnian ini tidak hanya berhenti pada ranah komposisi musikal, melainkan ikut merembes hingga ke pencarian batas-batas terluar gramatikal bahasa Indonesia. Oleh karenanya, di samping aransemen lagu, salah satu elemen utama dalam Stambul Arkipelagia adalah penciptaan neologisme dan penyalahgunaan licentia poetica secara agak kelewatan. Praktik ini merupakan hak prerogatif di ruang penciptaan yang paling semestinya: lirik lagu. Berbeda dengan aparatur negara yang Orwellian dan secara sengaja menyalahgunakan wewenang bahasa untuk mengelabui publik, kesewenang-wenangan linguistik dalam proyek ini mempunyai tujuan yang persis sebaliknya—untuk membongkar realitas dan mencari ekspresi yang akurat.

Eksperimen dan eksplorasi Stambul Arkipelagia juga memanfaatkan dan menyesuaikan pelbagai artefak kesusasteraan Nusantara—mulai dari penggunaan beta sebagai pronomina pertama yang melintasi batas geografis, hingga leksikon hibrid seperti anarkipelagia dan malapelagia untuk memetakan kekacauan struktural. Lebih jauh, kesemena-menaan dari pemilihan dan penciptaan diksi ini juga disertai dengan pengabaian atas konvensi puitika klasik; lirik-lirik digubah tanpa refrain, kecuali pada “Dansa S’orang”. Repetisi senantiasa dirancang untuk memuat variasi dan eskalasi tematik. Ketiadaan jangkar pengulangan ini sengaja dihadirkan untuk menyeret audiens ke dalam labirin yang terus bertumbuh tanpa jeda, dan juga untuk menyatakan bahwa bahasa di dalam album ini bukan semata alat penunjang nada, melainkan arena pertempuran dan peleburan budaya itu sendiri.

Selama dua tahun pengerjaan Stambul Arkipelagia dari awal 2025, saya yakin cuilan sejarah itu—yang tidak diakui meski formulanya terus dipakai—masih menyimpan percikan nyawa. Di akhir fase produksi, manakala mastering seluruh lagu telah rampung, saya mendapati kepingan itu ternyata memang masih mampu untuk sekali lagi berkembang menjadi suatu artikulasi utuh yang bercerita tentang penderitaan, tragedi, dan kegelisahan hari ini, sebagaimana Sutradara Andjar Asmara di masa akhir kolonial Belanda melakukannya lewat Dardanella. 

Kelegaan dan kesenangan sederhana semacam itu sudah cukup. Setidaknya untuk masa-masa yang penuh kegelapan macam ini. Karena, pada akhirnya, Stambul Arkipelagia adalah sebuah usaha kecil menghalau kecemasan lewat satu-satunya cara menyenangkan yang saya tahu: musik. 

 

 

Surabaya, September 2026 

Kharis Junandharu
Orkes Silampukau

Selayang Pandang Stambul Arkipelagia: Vol. 3

Stambul Arkipelagia Vol 3 (square)

Para pendengar tersayang,

Fragmen-fragmen yang menyusun volume ini bukanlah musik dalam pengertian yang lazim, melainkan sekumpulan aib aural yang berhasil diselamatkan dari sejarah sebuah negara-bangsa bernama Arkipelagia. Sebagai labirin maritim yang membentang di sepanjang khatulistiwa, Arkipelagia barangkali hanyalah sebuah kecerobohan geografis dari purwarupa proyeksi Mercator, glitch dalam software peta digital, atau, yang lebih buruk, sebuah distopia yang akrab. Negeri ini adalah anomali kronologis di mana masa lalu dan masa depan saling bertumpang tindih dalam satu garis waktu yang cacat; sebuah tempat yang keberadaannya hanya bisa dibuktikan melalui igauan dari mimpi buruk para kartografer yang mabuk.

Secara berurutan, volume ketiga berisi sebuah balada yang merekam pertemuan pada suatu dini hari di sebuah kedai minum rendahan tak bernama antara seorang pelancong yang sempoyongan—oleh alkohol dan pengkhianatan kawan lama—dengan sosok lelaki misterius yang kelak akan dicatat oleh sejarah sebagai Al-Muqawim; dentum horeg meresahkan yang dijadikan lagu kebangsaan apokrif oleh proletariat kepulauan secara sembunyi-sembunyi; sepotong musik impresionis tentang raungan terakhir hutan hujan purba sesaat sebelum kematiannya datang atas nama kemajuan dan pembangunan; delusi manis dari sepasang kekasih yang terpisah jarak dan nasib, yang menjadikan kerinduan sebagai satu-satunya alasan bertahan hidup dan jangkar kewarasan di tengah magnitudo konflik yang tidak terlalu mereka pahami; satu lagu disko legendaris yang menyesakkan, yang merekam siklus eksodus penduduk kepulauan sebagai konsekuensi logis dari penderitaan yang tak berkesudahan di kampung halaman; sebuah solilokui dari seorang lansia yang telah kehilangan cinta terbesar dalam hidupnya sejak belia dan terpaksa memikul renjana di seluruh sisa usia—kisah yang kerap dianggap terlalu kecil dan tidak layak mendapat tempat dalam sejarah duka bangsa; nukilan danse macabre yang menyelundup dari zaman lampau dan menyaru sebagai waltz yang dingin dan sunyi; sepotong lagu dansa gaya lama bertema horor hiperrealitas dan tirani psikopolitik kiwari yang berlumur kegetiran akibat alienasi digital pada nyaris tiap baitnya; sebuah diorama sonik yang berfungsi sebagai rekonstruksi spekulatif tentang misteri kematian Al-Muqawim—seorang martir utama yang jasadnya tak pernah diketemukan, yang mitosnya dikomodifikasi menjadi dongeng propaganda di kemudian hari oleh rezim Federasi Demokratik Arkipelagia yang mengkhianatinya. Volume ini diakhiri oleh preludium jahanam bagi makrokosmos celaka bernama Arkipelagia, yang disajikan dalam balutan chamber music.

Volume ketiga ini merupakan penutup dari rangkaian Stambul Arkipelagia yang sudah kami rilis sejak tahun 2025. Besar harapan kami agar karya ini dapat dinikmati sedalam-dalamnya sebagai sebuah fiksi, sebagai pakansi singkat kala kenyataan demikian mengimpit, sebagai lantunan kala hari-hari terasa kian muskil, kian sulit.

Terima kasih telah menemani perjalanan musikal kami selama bertahun-tahun ini.

Selamat menikmati seluruh rangkaian album ini. Selamat menyelami Arkipelagia.

Sepenuh cinta kami,

Orkes Silampukau

Track List
  1. Subuh Ini
  2. Lagu Umum
  3. Pandemonium Ekosida
  4. Stambul Rindu
  5. Ad Nauseam
  6. Beta Punya Cerita
  7. Waltz Pendek Untukmu
  8. Dansa S’orang
  9. Postlude Al-Muqawim
  10. Stambul Muasal

Produced by
Moso’iki Records.

 

Recordings

  • Drums and Synths are recorded at Rotary Music Space
  • Piano is recorded at Studio Prapen
  • Violin and cello are recorded at Studio rekamkamar
  • Vocals, guitars, and contra bass are recorded at Moso’iki Studio
  • All other instruments are recorded at Kuntari’s Studio

 

Writing & Compositions 

  • All tracks: Kharis Junandharu
  • Track 3 : Kharis Junandharu & Tesla Manaf
  • Track 8 : Kharis Junandharu & Rhesa F. Hattu

 

Instruments

  • Guitars: Kharis Junandharu
  • Vocals: Kharis Junandharu, E.D. Priagusta (Track 2), Natasya Elvira (Track 4), Cholil Mahmud (Track 2)
  • Contra Bass: Rhesa F. Hattu
  • Piano: Sam Ariefin
  • Drums and Washboard on Track 2: Prasimansyah
  • Violin on Track 2 and 10: Dika Chasmala
  • Cello on Track 10: Billy Aryo Nugroho
  • Synthesizers: Sam Ariefin & Prasimansyah
  • SFX & Sound Design: Prasimansyah
  • Foley Artist & Sound Design on Track 9: Bhagus Subadie
  • Trumpet, Marimba, Glockenspiel, Hammond, Foley, and Bass on Track 3: Tesla Manaf

 

Productions

  • Editing: Prasimansyah and Rhesa F. Hattu
  • Mixing: Prasimansyah at Rotary Music Space
  • Mastering: Barry Junius at Studio Prapen
  • Recording Engineering: Prasimansyah, Rhesa F. Hattu, and Barry Junius
  • Strings Arrangement: Kharis Junandharu and Sam Ariefin

 

Art & Creative

  • Creative: Radit Mahindro
  • Cover painting, graphic design, and illustration: Redi Murti
  • Photographs: Iqbal Tawakkal
01 Lorem
02 Ipsum
03 Dolor
04 Amet

Panggilan

Oleh: Geger Riyanto

Perubahan merupakan proses yang alami belaka untuk Silampukau—sekarang mengusung diri sebagai Orkes Silampukau—untuk rilisan barunya.

Lagu-lagu klasik Silampukau merupakan sohib hangat untuk pikiran yang senggang. Hangat, jujur, tak jarang melankolis. Bayangkan, kendaraan melaju, lampu-lampu jalan berkelebat di sisi-sisi penglihatan. Diiringi genjrengan akustik renyah, suara bariton Kharis dengan artikulasinya yang jelas membubung:

“Magrib mengambang lirih dan terabaikan
Tuhan kalah di riuh jalan
Orkes jahanam mesin dan umpatan
Malam jatuh di Surabaya”

Suasana semacam itu mungkin sudah menjadi ingatan inti akan Surabaya bagi banyak orang. Warung kopi, jeda obrolan dengan teman-teman nongkrong, dendangan kontemplatif Kharis dan Eki. Meja kerja, tumpukan tugas yang belum habis, rintihan nasib kocak musisi indie dengan kelincahan folk riang. “Musisi, Gusti, musisi. Bukan jadi penjaga distro kayak gini.”

Lagu-lagu klasik Silampukau mendendang tak terhitung di berbagai sudut, hening dan ramai. Mereka menyentuh pendengarnya karena betapa intim liriknya merepresentasikan kehidupan—dalam banyak kesempatan—dengan kejujuran yang jahat.

Dan yang mungkin acap luput lantaran kelihaian musik Silampukau beresonansi dengan kehidupan: ia juga membentuk kenyataan kita. Mendengarnya, kota yang setiap saat terasa memusuhi tiba-tiba memancarkan keindahan absurd yang bisa diterima. Kita melihatnya secara berjarak, jauh dari kesesakannya, memercikkan rasa iba serta keterikatan lama.

Tembang-tembang Stambul Arkipelagia rilisan pertama menanggalkan berbagai kualitas tradisional lagu Silampukau tersebut. Mendengarnya sekilas, lagu-lagu anyar ini akan terasa asing. Vokal Kharis yang khas masih ada di sana. Liriknya yang berima secara ajaib, dengan kosa kata yang acap eksotik tapi mengena dan tidak berlebihan, masih ada di sana. Kejujuran jahat dibalut kemeriahan sederhana folk juga masih ada. Tapi, keintiman yang sama mungkin tidak akan dirasakan—setidaknya ketika awal-awal mendengarnya.

Lagu-lagu Silampukau intim karena langsung membidik peristiwa, intrik, keresahan hingga kegirangan menyehari. Mereka adalah hal-hal yang paling mengepung kita dan, mungkin juga, sisi paling rentan kita. Ketika kita berkomunikasi dengan apik menggunakan perasaan-perasaan yang berteriak tergores kenyataan, kita tahu, kita berbicara dengan jiwa lawan bicara kita. 

***

Sebagai sebuah usaha berbicara, Stambul Arkipelagia digubah dengan strategi yang lain. Ketimbang berpijak pada Surabaya atau kenyataan langsung lainnya di sekitar pendengar, Stambul Arkipelagia mencoba mendirikan semesta yang dinamakannya Arkipelagia dan menceritakan satu persatu sisi muramnya. Manuver ini sendiri menggiring musik Orkes Silampukau ke ranah balada. Ranah ini tidak sepenuhnya asing untuk Silampukau, tapi Stambul Arkipelagia merupakan langkah berani—kalau tidak bisa dibilang nekat—menjebloskan diri utuh-utuh ke dalamnya.

Dari sini saja bisa diterka bahwa lagu-lagu Stambul Arkipelagia merupakan perjalanan, epos, atau gambaran krisis sebuah negeri. Lirik-liriknya tak lagi merupakan montase impresi yang menggaungkan pengalaman mendarah daging audiensnya, melainkan sketsa-sketsa yang menganyam keutuhan narasi semesta Arkipelagia. Dan tentu saja, balada yang diangkatnya berwatak kontemporer: ia sinis, berlepotan dengan cemooh terhadap para tokohnya atau mengekspresikan kejujuran yang konyol.

“Sejauh ‘Ku Memandang”, sebuah sketsa krisis Arkipelagia, dibuka dengan lirik berikut:

“Padi hampa tiada tinggi September ini,
bara cuaca memanggang segalanya:  

ladang gemersang sejauh ‘ku memandang.
Kemarau t’lah menang, paceklik datang, paceklik panjang.”

Selanjutnya, lagu ini akan mengeksplorasi dan mengulang sketsa paceklik tersebut. Nuansa country minor, penekanan pada “paceklik menang” menggambarkan sekaligus menorehkan perasaan pesimis berat pada Arkipelagia. Tembang “Jurang Kemiskinan 1 (Dodoi)” melakukan hal serupa. Diiringi dengan irama Melayu minor, nyanyiannya mengungkapkan kepenatan warga Arkipelagia diperlakukan sebagai “bonus demografi”. Didominasi dengan vokal dan tempo lambat—”dodoi” sendiri berarti pengantar tidur— kita dapat mencecap kegamblangan kemarahan tokoh aku, meski belum tentu berbagi emosi yang sama dengannya.

Terkait menularkan perasaan, lagu-lagu klasik Silampukau lebih kuat dalam melakukannya. Nampaknya, ia tak lepas dari eksplorasi emosi yang lebih monoton dan ketiadaan keterikatan unik terhadap tempat, waktu, serta perkara dalam rilisan pertama Stambul Arkipelagia. Namun, kita juga bisa melihat ini sebagai implikasi dari strategi yang dipilih Orkes Silampukau. Lagu-lagu tak berdiri sendiri-sendiri melainkan menyumbang ke pesan menyeluruh dari album. Bayangkan sebuah pentas musikal. Ketika sebuah lagu diputar di luar kronologi pentasnya, kita lebih sulit meresapinya.

Nuansa Stambul Arkipelagia bergeser dengan dua lagu lain yang lebih menjelajahi kisah pribadi ketimbang sketsa sosial, meski ini juga tetap strategi untuk membangun semesta Arkipelagia. “In Memoriam … (Halimun Rahasia)” merupakan tembang kerinduan tragis sepasang kekasih yang terpisah kematian. Kendati menyiratkan Arkipelagia yang berbahaya, lagu ini khusyuk berkutat dalam rintihan kerinduan kedua kekasih ini. Lagu ini mengandalkan atmosfer operatik dengan orkestrasi yang bertahap, menuju klimaks yang ekstrem dan emosional. Pada momen puncaknya, ia terdengar seperti ikrar tragis dua arwah mengejar akhir yang baik.

Dan “Sejoli” adalah cerita tak selesai antara Bobby dan Erika—sepasang kekasih dengan profil ganjil—yang dimabuk asmara. Fokus pada mengisahkan keunikan sosok keduanya, lagu bernuansa tango dengan dinamika bersemangat ini berakhir dengan kehamilan Erika dan ketidakpastian yang menanti keduanya. Seperti “In Memoriam”, lagu ini menceritakan Arkipelagia tanpa menyinggung negeri tersebut: 

“Amboi, garis dua!
Gesit betul berenangnya!
Amboi, nasib apa
yang sembunyi menantinya,
di neg’ri sengeri hari-hari ini,
di ambang tirani?”

***

Buat pendengar lama Silampukau, langkah Orkes Silampukau barangkali bisa dikatakan mengagetkan. Sepuluh tahun sejak merilis album ikonik yang meninggalkan pendengar mereka haus akan karya selanjutnya, band ini kembali dengan bunyi yang tak akrab, meninggalkan karakter yang mendefinisikan mereka.

Namun, ada pilihan justru untuk memaknai perubahan ini sebagai perkembangan alami. Dari lagu-lagu klasik Silampukau pun, kita bisa menangkap energi kreatif yang meluap-luap. Energi kreatif semacam itu tak akan pernah bisa ternyatakan sepenuhnya. Akan selalu ada yang tertinggal, menyiksa dan menggebu-gebu. Dan kita bisa membayangkan ketidaktenangan yang mereka hadapi bertahun-tahun setelah mengeluarkan “Dosa, Kota, dan Kenangan”. Tidak menghasilkan karya untuk waktu yang lama dan ketika dihadapkan dengan alat produksi, mereka digentayangi oleh lagu-lagu mereka sendiri. Lagu-lagu itu sukses—terlalu sukses bahkan. Mereka tahu para pendengar menunggu-nunggu rilis baru dan akan mengukurnya berdasarkan lagu-lagu lama.

Orkes Silampukau bisa memainkannya secara aman—menghasilkan musik mengikuti setiap resep yang mengantarkan mereka ke tempatnya sekarang. Tapi, tidakkah itu akan mengkhianati apa yang mereka bangun selama ini? Tidakkah mereka bakal merasa jadi musisi karikatural yang mereka cemooh bersama para pendengarnya? Kita tahu bagian mana yang paling dinantikan ketika “Doa 1” dimainkan dalam konser—bagian yang akan dimainkan pelan-pelan, penuh perhatian, dan ditunggu Eki, Kharis serta para pendengar sambil meringis.

Stambul Arkipelagia menjadi respons tanpa kompromi terhadap ketidaktenangan tersebut.

Suatu petang, saya berbincang bersama Kharis dan seorang teman lain yang sudah mendengar Stambul Arkipelagia sejak baru digenjreng keluar dari kepala penciptanya. Sejak awal pula, teman ini mengomentari sulitnya mengingat lirik-lirik Stambul Arkipelagia bila baru mulai mendengarnya. Dalam obrolan itu, saya kontan membenarkannya. Saya mengaku tak mendengar reff yang sederhana dan berulang, jangkar lagu yang memungkinkannya melekat di pendengar, bahkan ketika mereka tak sadar.

Dengan masukan seperti itu dari awal, Kharis kukuh dengan pilihannya: Stambul Arkipelagia mesti jadi jagat yang mengalun bak pentas musikal, bergulir terus tanpa dijangkari apa pun. Orkes Silampukau tahu risiko dari keputusan-keputusan kreatifnya dan tetap melangkah.

Di samping ketidaktenangan artistik, lagu-lagu Orkes Silampukau juga gamblang dengan ketidaktenangan politik. Kita tidak sedang hidup di masa yang manis. Menguatnya otoritarianisme dan militerisme, kontrol oligarki terhadap kebijakan, perampasan lahan, ketimpangan, dan merebaknya pekerjaan informal rentan mendefinisikan hari-hari yang kita hidupi.

Semesta Arkipelagia bisa dimaknai sebagai berbagai hal. Tapi, kita tak bisa berpura-pura bodoh ke mana referensinya diarahkan. Dan ketimbang memilih untuk berbicara dengan subtil, ia menguraikan satu skenario ekstrem dengan gambaran yang menggelegar, tak ditahan-tahan.

Saya membayangkan barangkali lirik-lirik Stambul Arkipelagia akan lebih intim bagi sebagian pendengar bila menyentuh krisis yang sunyi ketimbang spektakuler. Lilitan hutang yang tidak terbayar—yang kita tahu tengah menjadi persoalan banyak orang. Ijazah yang diperoleh dengan mahal, lama, dan ternyata tak berharga. Perasaan tidak ada gunanya karena tak kunjung menemukan pekerjaan, hanya menganggur di rumah tak menentu sambil dengan lemas menyaksikan berita penyelewengan kekuasaan.

Tapi, sebagaimana musiknya yang tak malu-malu, Stambul Arkipelagia memilih memotret krisis yang spektakuler. Ia bercerita bukan lagi tentang orang-orang yang diputus sumber udaranya pelan-pelan, melainkan mereka yang ditebas. Mungkin, memang, Orkes Silampukau tak mau ada yang diredam. Mereka ingin berbicara, keras.

Dan sebagai sebuah pesan politik, Stambul Arkipelagia dibawakan dengan kompleksitas musikal yang istimewa. Meski tak semua akan cocok dengan musik terbarunya, Orkes Silampukau punya kepedulian yang tak terbantahkan terhadap lagu-lagunya. Setiap lagu memiliki serenteng lapisan, tapi tak menutupi satu sama lain. Bunyi yang megah dan rombeng, girang dan cemas dijahit dengan hati-hati—Anda bisa merasakannya. Lirik dengan kosakata yang asing disusun dengan rima dan irama yang membuatnya tetap merdu. Mereka pun tak lupa bermain-main dengan kejujuran dan kegamblangan jahat pada lirik mau pun musiknya.

Kita mungkin membayangkan Stambul Arkipelagia menyandang tugas yang berat lantaran pendahulunya. Tapi, bagaimana pun, Silampukau sudah selesai memberikan kepada kita “Dosa, Kota, dan Kenangan”. Karya-karya klasik itu sudah bernaung di hidup kita, bisa diputar ulang, dan akan terus menemani kita semudah menekan layar.

Orkes Silampukau tak berhutang apa-apa dan kini mereka mengikuti panggilannya. Ke mana lagu-lagu baru ini akan tertiup, kita belum tahu.

Depok, 2025

Kawanan Kepodang yang Ditunggu Terlalu Lama

Oleh: Puthut EA

Kharis Junandharu memang bukan Gregor Samsa. Tapi, bukan berarti tokoh dari karya agung sastrawan Franz Kafka di noveletnya berjudul Metamorfosa (terbit pertama tahun 1915) itu terlalu jauh dari Kharis. Zaman mereka berbeda. Negeri mereka berdua berjarak terlalu jauh. Namun, setiap keresahan punya resonansinya sendiri. Dalam sepanjang kisah yang gelap dan sesak atas kehidupan Gregor Samsa, kita mendapati rasa bosan, keterpurukan, semacam rasa cemas menghadapi absurditas dunia modern.

Tapi, kalau kita lihat di album baru ini, kita bisa mendapati keresahan serupa. 

Mari kita simak sepenggal pernyataan pengantar dalam album pendek yang berisi 4 lagu (atau sesungguhnya 5?), yang bertajuk Stambul Arkipelagia: Vol. 1—yang menyiratkan akan ada volume-volume selanjutnya. Saya ambilkan sepotong pernyataan yang sangat relevan dengan apa yang saya tulis di atas:

“…sebuah negeri maritim penuh marabahaya di suatu tempat di sepanjang lingkar tropis, yang menjadi perwujudan distopia terburuk dari peradaban manusia, yang terletak di masalalu dan masadepan yang jauh secara bersamaan; sebuah negeri yang senantiasa berada di ambang kenyataan dan khayalan.”

Pernyataan yang kuat sekaligus tersirat jelas di sana sebuah keresahan menghadapi masa kini yang buruk dan masa depan yang jauh—tak bisa atau lebih tepatnya tak berani dibayangkan. Saking tegangnya, maka ia berada di ambang kenyataan dan khayalan. Semacam Gregor Samsa yang tiba-tiba terperangkap di sebuah wadhag seekor kecoa.

***

Silampukau yang menetas tahun 2008, baru berkicau dengan mini album tahun 2009, yang membuat duo Kharis dan Eki ini mendapatkan perhatian dari para pencinta musik ber-gagrak folk. Tapi baru tahun 2015, mereka menggedor pintu musik Indonesia dengan album ‘Dosa, Kota, & Kenangan’. 

Sekali pun direkam dengan segala keterbatasan, dan Kharis berkali-kali menyatakan itu sebuah album yang dibuat agak terburu-buru, namun nyatanya album itu meraih banyak penghargaan, terutama apresiasi dari para pendengar musik di Indonesia. Silampukau, mematuki kepala para pencintanya. 

Tapi album kedua tak kunjung datang. Banyak orang mengira Silampukau mengalami ketakutan: album kedua tak diterima sebagaimana album pertama. Bahkan ada kenalan saya, yang saya anggap orang yang tahu musik, pernah berceloteh, “Makanya kalau bikin album jangan terlalu sempurna, jadinya seperti Silampukau, dibayang-bayangi ketakutan mereka sendiri.”

Saya tidak bisa berkomentar lebih jauh, karena hubungan saya dengan Kharis dan Eki boleh dibilang cukup dekat, dan saya menyaksikan upaya mereka untuk terus berkreasi. Minimal setahu saya, mereka mengeluarkan single “Dendang Sangsi” (2021) dan “Lantun Mustahil” (2022). Kedua lagu tersebut, setidaknya bagi saya yang hanyalah seorang penikmat lagu—itu pun penikmat semenjana, bukan kelewat serius—terasa betul perkembangan musikalitas dan keinginan lepas dari kerangkeng album ‘Dosa, Kota, & Kenangan’, dan saya kira itu berhasil. Walau pun dalam beberapa kali pertemuan dengan Kharis, lagi-lagi dia bilang, kedua single itu tetap dianggap “terlalu terburu-buru”. Tapi tetap bagi saya, itu dua lagu yang enak dinikmati, segar, dan asyik.

Hanya saja saya mengerti, setiap kreator semacam Kharis, terus ada dalam ketegangan antara keinginan berkarya dan membagikan karya mereka ke publik dengan rasa sesal, seolah ingin bilang: ini kurang sempurna.

Tapi sebagai seorang kreator di bidang lain, keinginan atas kesempurnaan itu harus dianggap sebagai sebuah keresahan kreatif, bukan kasunyatan produktif. Kalau semua kreator mengikuti arus keinginan mempersembahkan kesempurnaan, saya kira tidak akan ada orang berkarya. Keparipurnaan sebuah karya justru karena di dalamnya ada bolong, cela, koyak, yang justru bisa dimengerti oleh apresiator. Kalau diibaratkan makanan, karya yang “sempurna” bisa jadi malah tidak bisa ditelan karena rasa eman. Juga kompatibel dengan eksistensi manusia, ketidaksempurnaan akan melahirkan ketidaksempurnaan yang lain, tapi justru karena itulah layak diedarkan. 

***

Pada karya terbaru ini, Silampukau tampaknya bukan hanya melempar album yang sudah dipersiapkan sejak lama, mencoba digarap dengan lebih teliti dan apik, dan mengubah nama Silampukau menjadi Orkes Silampukau. “…adalah formasi baru kelanjutan daru duo Silampukau.”

Saya tidak tertarik untuk menelisik lebih jauh kenapa harus ada pilihan ini. Kharis tentu lebih paham. Mungkin mereka butuh formasi anyar untuk melahirkan album pendek ini, dan kelak album-album lain, sebab direncanakan ada volume 2 dan 3, yang ketiganya menjadi album utuh. Sebuah strategi yang juga tak perlu saya cemaskan benar sebagai seorang pendengar.

Musababnya, saya diberi kemewahan untuk mendengarkan album pendek volume pertama ini, dari mulai sketsa lagu hingga rekaman usai. Dan bagi saya itu bukan hanya kemewahan tapi juga menelisip rasa bangga dan takjub. Bangga karena apa yang dibilang banyak orang yang meragukan Silampukau tidak terbukti. Takjub karena rasa Silampukau masih kuat, tapi terjadi gradasi warna lagu yang jelas kentara. Saya yakin, pencinta musik Silampukau tetap akan terpukau dengan kualitas Orkes Silampukau.

Harapan Orkes Silampukau yang tertera dalam pengantarnya yang apik itu, tampaknya bukan bualan. 

“Besar harapan kami bahwa karya ini dapat dinikmati sedalam-dalamnya sebagai fiksi, sebagai pakansi singkat kala kenyataan demikian mengimpit, sebagai lantunan kala situasi terasa muskil dan sulit.”

Sebuah lagu yang dinikmati ala fiksi dan pakansi singkat, sepertinya memang benar adanya. Fiksi dari sebuah negeri yang entah, yang berada di ambang kenyataan dan khayalan. Dan pakansi singkat, minimal ketika mendengarkan lagu-lagu di album pendek ini, membuat kita bertamasya dalam syair dan titi nada yang dibentangkan dengan zig-zag, meliuk, sebab sebagaimana jalanan, yang terlalu lurus dan halus hanya akan menghasilkan rasa kantuk. Ini adalah sebuah antologi lagu yang hidup. Rentetan lagu yang akan membuat kepala menggeleng dan mengangguk sehingga urat-urat di leher bisa rileks, tulang punggung bisa lentur, dan entakan kaki yang membuat sistem saraf terangsang dan aktif kembali.

Namun di sisi lain, isi kepala dan imajinasi tetap punya alarm dan sirine kewaspadaan, karena kita masih dan sedang hidup di sebuah negeri yang sedang tidak baik-baik saja, yang potensi terjadinya turbulensi bisa terjadi kapan saja.

Yogya, 12 Mei 2025

Silampukau dan Negeri yang Hilang Nama

Oleh: Virdika Rizky Utama

Silampukau kembali hadir setelah satu dekade sejak merilis Dosa, Kota, dan Kenangan (2015), album yang mengabadikan romantika gang-gang Surabaya dengan gitar akustik dan lirik melankolis. Kini, mereka kembali dengan Stambul Arkipelagia Vol. 1, sebuah karya yang tak lagi sekadar menyanyikan nostalgia, melainkan menyuguhkan lanskap distopia yang menggigilkan. Arkipelagia adalah negeri rekaan yang penuh amarah, kehilangan, dan absurditas sosial. Album ini bukan pelarian dari realitas, tapi perluasan darinya—sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi menggugah, mengganggu, bahkan memperingatkan.

Terdiri dari lima trek—empat lagu berlirik dan satu instrumental pendek—album ini terasa seperti suite dramatik ketimbang kumpulan lagu. Setiap lagu adalah fragmen, bagian dari tubuh narasi yang menggambarkan bangsa yang kehilangan arah. Arkipelagia bukan utopia yang gagal, melainkan distopia yang terlalu akrab. Kita mengenalnya diam-diam, bahkan sebelum musiknya diputar.

Di lagu “Sejauh ‘Ku Memandang (Paceklik Blues)”, Silampukau menggambarkan bumi yang kelelahan. Kita menelusuri ladang mati, kemarau yang menggulung harapan, dan panen yang berarti hutang. “Padi hampa tiada tinggi September ini, bara cuaca memanggang segalanya,” nyanyi mereka. Di ujungnya, kita tak menemukan pemulihan, melainkan pengulangan bencana: “Penghujan datang, paceklik menang; paceklik panjang.

Realitas ini bukan fiksi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2023, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,90 juta orang. Persentase kemiskinan memang turun dari sebelumnya, tapi kemiskinan struktural tetap merajalela: yang turun hanya angka, bukan beban hidup. Di daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, dan sebagian wilayah Jawa, distribusi bantuan sosial kerap tak sampai ke akar. Silampukau tidak menyebut daerah, tapi menyanyikan atmosfernya: panas, putus asa, dan tak berdaya.

Keresahan kemudian bergeser menjadi satir getir dalam “Sejoli”, lagu yang berkisah tentang dua tokoh: Bobby dan Erika. Sejoli yang bermain cinta di sudut asrama, menjelajah labirin tubuh dan jiwa, hingga tiba pada satu kenyataan pahit: kehamilan yang tak diundang tapi tak bisa dihindari.

Amboi, garis dua! Gesit betul berenangnya!” seru Bobby, setengah gugup, setengah geli, ketika test pack menegaskan hasilnya. Erika menyusul dengan bait getir nan puitis: “Ai, putik Kusuma Neraka!

Di tangan Silampukau, kehamilan di luar pernikahan tak dihadirkan sebagai aib moral, tapi sebagai drama eksistensial dalam masyarakat yang tak memberi ruang aman untuk salah. Bobby dan Erika bukan sekadar pasangan muda yang lalai. Mereka adalah representasi generasi yang tumbuh dalam kekacauan nilai dan minimnya jaminan sosial—dari pendidikan seksual yang tak memadai hingga tekanan ekonomi yang meniadakan masa depan.

Bonus demografi yang seharusnya jadi anugerah justru perlahan menjelma jadi bencana. Menurut Bappenas, Indonesia akan mencapai puncak usia produktif pada 2030. Tapi tanpa pendidikan, lapangan kerja, dan jaring pengaman sosial yang cukup, potensi ini hanya jadi angka statistik yang memupuk frustrasi. Survei Katadata Insight Center (2023) menunjukkan hampir separuh Gen Z Indonesia merasa cemas terhadap masa depan pekerjaan mereka.

Prelude Al-Muqawim”, instrumental berdurasi satu menit, menjadi momen hening. Judulnya mengacu pada salah satu nama Tuhan dalam Islam: Al-Muqawim—Sang Penegak. Tapi dalam jeda ini, tak ada yang tegak. Musiknya justru terdengar seperti bayangan krisis yang sedang menunggu di tikungan. Sunyi, tapi menekan. Jeda yang tak menyegarkan, melainkan mengguncang.

Kemudian datang “Jurang Kemiskinan 1 (Dodoi)”, lagu pengantar tidur yang menggigit. “Nirdaya kala diperdaya negara; pakan infernal invertebrata neraka,” mereka menyanyikan dengan lirih. Negara, dalam lagu ini, tidak hadir sebagai institusi penyelamat. Ia menjadi predator diam. Dalam lirik, kata “dodoi” berayun lembut, namun justru menjadi ironi untuk sistem yang memelihara kemiskinan dengan tenang.

Silampukau menaruh kata “bonus demografi” dalam lirik, lalu membantingnya dengan realitas. Alih-alih generasi emas, kita melihat generasi limbung. Yang diminta tangguh tapi tak pernah ditopang. Beberapa tahun lalu, Oxfam dan INFID melaporkan bahwa empat orang terkaya Indonesia menguasai kekayaan setara dengan gabungan 100 juta orang termiskin. Silampukau tidak menyodorkan fakta itu, tapi meramu perasaan kolektif yang muncul darinya—dalam bentuk yang lebih menggigit daripada grafik.

Penutup album, “In Memoriam… (Halimun Rahasia)”, adalah lagu duka. Ini bukan duka personal, melainkan duka kolektif. “Mekar kemboja di kubur nirnama, di halimun rahasia historia,” nyanyi mereka. Ini bukan lagu untuk para kekasih yang kehilangan, melainkan lagu untuk nama-nama yang hilang, yang tak pernah kembali, yang tak pernah dicatat. Lagu ini memanggil arwah yang tak dikenang, menabur bunga di atas tanah yang tak dianggap makam.

Ada semacam keheningan panjang yang menyelimuti akhir lagu ini. Bukan keheningan kosong, tetapi keheningan yang penuh gema sejarah yang tidak dituliskan, tubuh-tubuh yang tidak ditemukan, dan duka yang tidak pernah sempat diratapi. Dalam lanskap bunyi ini, kehilangan menjadi pusat dari ingatan kolektif. Kita tidak sekadar mendengar lagu, kita diajak ikut berkabung.

Seluruh album ini tidak bergerak ke klimaks. Ia tidak menawarkan resolusi. Justru sebaliknya: ia membentuk siklus duka, dari ladang ke ranjang, dari kamar ke kubur. Transisinya halus, tapi bobotnya tak bisa dianggap ringan. Silampukau tidak sedang menawarkan nostalgia, mereka sedang mengajukan gugatan.

Mereka yang pernah jatuh hati pada lagu-lagu awal Silampukau mungkin merasa kehilangan. Tidak ada lagi “Doa 1” atau “Malam Jatuh di Surabaya” yang hangat dan akrab. Tidak ada gitar akustik dengan dua vokal saling bersahut seperti teman lama yang saling curhat. Stambul Arkipelagia adalah sesuatu yang lain. Megah. Getir. Dingin. Dan penting. Sebab hari ini, musik yang baik tak hanya yang enak didengar, tapi yang tahu kapan harus bicara—dan kepada siapa.

Silampukau, lewat lima komposisi ini, tidak membuat album untuk menemani perjalanan pulang. Mereka menyusun sebuah negeri: negeri yang retak tapi nyata. Negeri yang barangkali sudah kita tempati lama sebelum Arkipelagia diberi nama. Mereka tidak menyebut Indonesia. Tapi kita tahu, di sinilah kita berdiri.

Dan seperti karya sastra besar, album ini tidak bisa selesai dalam satu putaran dengar. Ia butuh waktu, dan keikhlasan untuk tidak nyaman. Lagu-lagu ini tidak memandu, tapi membiarkan kita tersesat. Dan di situlah keberaniannya: Silampukau tidak sedang berdiri di luar zaman dan menghakimi, mereka menyelam ke dalamnya—menjadi suara dari dalam gelap.

Arkipelagia, pada akhirnya, bukan fiksi. Ia adalah cermin. Cermin yang tidak memantulkan apa yang ingin kita lihat, tapi apa yang harus kita hadapi. Sebuah negeri dalam lima lagu. Sebuah bangsa dalam lima luka.

Dan jika ada yang paling mengganggu dari album ini, itu bukan nadanya. Bukan liriknya. Tapi kesadarannya yang pelan-pelan tumbuh di kepala bahwa Arkipelagia bukan tempat lain. Mungkin, itu adalah Indonesia yang terlalu lama tak kita akui.

Gelagat Nada-Nada Agonia

Oleh: Pep Stevanus

Kegetiran, kengerian, sekaligus sempoyongan. Kurang lebih tiga kata tersebut cukup untuk memijak pada dasar perenungan album Stambul Arkipelagia, Vol.1 garapan Silampukau. Sebuah album yang sejenak terasa seperti menyaksikan lakon namun dalam konteks auditif. Bagaimana tidak? Sebab alur dan tema yang digarap pada album ini tampak runut bagai rentetan episode dongeng musikal.

Lagi-lagi, Silampukau berhasil untuk memuat bunyi-bunyian yang menggelitik penggemarnya. Alam berpikir kita terasa seperti diobok-obok setelah 10 tahun lalu album Dosa, Kota, & Kenangan (2015) diperdengarkan; sebuah album yang menyarikan Surabaya beserta seluruh drama sosial-budaya dan permasalahan sehari-hari. Lantas, kemampuan Silampukau dalam mengartikulasikan masalah sehari-hari yang kerap kali terabaikan, pun juga receh (namun sangat berarti untuk dimaknai) masih menjadi daya pikat yang candu bagi pendengarnya.

Stambul Arkipelagia, Vol.1 merupakan buah dari rekayasa imaji tentang sebuah negara maritim yang seolah menuju ambang apokaliptik. Permasalahan sosial-politik dan kultural pada negeri fiktif tersebut dikemas dalam komposisi musik dengan menggunakan kode-kode simbolik yang memiliki arti tertentu. Secara warna musik (saya agak ragu menyebutnya genre) idiom musik yang dipakai masih tidak jauh dari seputaran Gypsy; meski agaknya ada upaya untuk menyamarkan warna “genre” tersebut. Saya rasa, langkah penyamaran warna gypsy tersebut merupakan suatu upaya bagi Silampukau untuk melakukan beberapa eksperimentasi musikal. Dan hal itulah yang penting untuk disoroti pada album ini, yakni Eksperimen!

Di album ini, percobaan eksperimentasi tersebut mencakup: eksplorasi soundscape; eksplorasi teknik komposisi; kawin silang gypsy, melayu, ragtime, country, dan blues; hingga interpretasi musik zaman impresionisme yang diutak-atik pada kadar kekinian (sebut saja populer). Maka dari itu penting untuk membedah sejauh mana percobaan itu dilakukan oleh Silampukau. Secara keseluruhan, bagaimana imaji tentang sebuah negeri yang dedel-duel, penuh amarah, dan putus asa, dikemas dalam balutan musik dengan nuansa balada?

Sejoli: Kesinisan Dalam Riuh Orkes

Grande. Terminologi tersebut menjadi kata kunci untuk membuka album ini melalui dua track awal, yakni: 1) Sejoli, dan; 2) Sejauh’Ku Memandang (Paceklik Blues). Selayaknya gending Srempeg pada babak perang pertunjukan wayang kulit yang bertensi tinggi, padat, dan juga terkesan chaos, kedua track tersebut terasa seperti tamparan. Misterius, mencekam, namun megah dan juga flamboyan.

Kali ini Silampukau (sepertinya) mulai mencoba untuk menyamarkan idiom gypsy yang selama ini melekat dengan identitas mereka. Karakter gypsy di lagu ini masih terasa ketika kita memperhatikan kembali pola drum yang memakai pendekatan ritme polka dan juga bassline yang memainkan walking 1/4 dengan menggunakan interval quinte. Selanjutnya, karakter drum dan bassline yang masih tercium aroma gypsy-nya tersebut dioplos dengan beberapa pendekatan idiom musik lain. Ramuan oplosan yang dipakai terdiri dari: gaya musik melayu, tango, gypsy, dan sedikit “bumbu” impresionisme Prancis. Idiom dari masing-masing musik tersebut dicomot lalu ditempatkan pada tiap instrumen. Kurang lebih seperti itulah cara Silampukau melakukan penyamaran gypsy yang selama ini melekat dengan karakter musik mereka.

Secara teknis, komposisi lagu Sejoli disusun dengan menggunakan beberapa layer instrumentasi yang membuat orkestrasi dari lagu ini terdengar cukup kaya. Jika rhythm section (drum-bass) masih memegang dasar-dasar gypsy pada pola ritmenya, maka berbeda dengan dengan instrumen harmoni (piano-gitar) yang mengoplos beberapa elemen musik lain sebagai ramuannya. Piano dan violin memainkan pola melodi secara unisono dengan gaya scale tango. Tidak hanya pada konteks pola melodi saja, aroma musik tango tersebut masih tercium pada konteks voicing serta ritmis dari akor tersebut. Maka tidak heran jika terasa seperti mendengar gypsy, pun juga seperti bukan gypsy karena ada unsur musik tango di dalamnya.

Setelah mengalami perjumpaan dengan oplosan gypsy-tango, telinga kita akan terdistraksi dengan sentuhan melayu yang tiba-tiba muncul di tengah lagu. Nada pada isian accapela vokal di bagian “lai, lalai, lai, lai!” cukup membuat telinga menjadi mendadak melayu. Sembari di saat yang sama nada tersebut diiringi dengan iringan gypsy-tango. Sekilas saya membayangkan komposisi ini seperti makanan Gado-Gado. Gypsy sebagai lontongnya, tango sebagai sambal kacangnya, dan melayu sebagai sayurannya.

Impresionisme dimunculkan sekilas pada bagian solo violin sebelum lirik “Amboi, garis dua!”. Tensi dan dinamika pada bagian ini sengaja diturunkan guna mempertegas melodi violin yang menjalankan tugasnya sebagai leitmotif. Pergerakan orkestrasi semacam ini merupakan hal yang lazim pada budaya musik impresionisme. Khususnya komposisi impresionisme karya Erik Satie yang sering dicap musik transenden atau mistisisme. Hal ini lantaran karakteristik karya Erik Satie bermula pada sesuatu yang arkais dan sederhana lalu berkembang memunculkan elemen bunyi yang dominan (Prier & Mack, 1991). Dan jurus inilah yang dipakai oleh Silampukau pada bagian ini. Dengan diturunkannya dinamika serta melodi yang menonjol, maka bagian ini menjadi gradasi yang baik untuk kembali ke dinamika forte pada bagian chorus Amboi, garis dua!

Dimulai dengan intro yang grande, lalu dipertemukan dengan perkawinan silang gypsy dan tango, setelah itu di tengah jalan mendadak kesurupan Erik Satie, lalu kembali lagi ke gypsy-tango namun dengan sentuhan melayu yang riuh. Saya rasa track pertama ini menjadi awalan yang menarik untuk mengantarkan kita pada perjalanan dongeng musikal album ini.

Sejauh’Ku Memandang (Paceklik Blues): Kaki-Kaki Yang Penuh Dendam

Lagu kedua Sejauh’Ku Memandang (Paceklik Blues) masih berada pada pemaknaan “grande” sebagai akad dari dongeng Stambul Arkipelagia, Vol.1. Secara komposisi tidak begitu berbeda dengan lagu pertama, Sejoli. Pendekatan dan idiomnya berada pada area gypsy, country dan blues. Bassline masih memainkan peran jaga gawang ritme gypsy-blues. Drum memainkan pola yang tidak neko-neko selayaknya gaya bermain blues rockabillly; terlebih dengan pemilihan sound serta tuning yang kental dengan nuansa vintage (low tune, basah, serta bunyi cymbal yang gelap). Dan yang terakhir, gitar memainkan genjrengan dengan menggunakan pendekatan gaya musik country.

Yang menarik dari lagu ini adalah permainan simbol bunyi. Pada bagian chorus terdapat bunyi yang terdengar seperti hentakan kaki di lantai kayu. Hampir sama seperti Tap Dance, namun tidak dengan ketukan serapat tarian tersebut. Hantaman sol sepatu yang keras pada lantai kayu memberi kesan sendiri. Bunyi tersebut seolah mengisyaratkan chant yang mengandung kekesalan dan amarah. Hentakan kaki sebagai simbol kekesalan sepertinya cukup sering kita jumpai dalam adegan film.

Dari bentuk komposisi serta penulisan liriknya, dua lagu ini (Sejoli dan Sejauh’Ku Memandang) saya rasa menjadi petunjuk awal untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di negeri Stambul Arkipelagia. Jika memang diniati demikian, apakah Silampukau berhasil memberikan pengantar yang apik? Apakah visualisasi secara auditif dari dongeng mereka berhasil? Jika berhasil, apa yang dibayangkan pendengarnya? Mari kita renungkan!

Jurang Kemiskinan 1 (Dodoi): Sambatan Apa Adanya

Setelah disuguhi musik oplosan gypsy, melayu, country, dan blues yang dar der dor, telinga kita diajak terjun bebas untuk menyelami kontemplasi yang nelangsa. Jika dua lagu awal berkonotasi marah dan juga kesal, maka berbeda dengan lagu ketiga ini yang terasa seperti sambatan. Bahkan bisa jadi rintihan. Mari kita coba bedah hal itu dari segi komposisi musiknya.

String memainkan trill dengan pemilihan harmoni yang membuat pendengar merasa kebingungan. Register bawah (contrabass) memainkan pedal point secara lembut serta misterius di satu nada Dm. Sementara register treble clef alto-soprano (viola-violin) memainkan counter-point dengan nada dan dinamika naik-turun (sforzandopiano) sebagai rajutan keseluruhan harmoni string section yang melas. Secara keseluruhan, di lagu ini instrumen string menjalankan tugas sebagai layer.

Selain instrumen string, ada bunyi glissando dari harpa sebagai pemanis, dan juga bunyi roll cymbal yang dimainkan dengan dinamika crescendo sebagai pelengkapnya. Susunan orkestrasi tersebut berperan sebagai pengiring gitar dan vokal yang menjadi elemen paling menonjol dari lagu ini. Meski lagu ini terdengar seolah-olah seperti “jatahnya” gitar-vokal, namun sesungguhnya hal yang paling penting adalah pada string section itu sendiri. Pendengar dapat tidak merasakan kegetiran yang nelangsa jika tidak didukung dengan pola harmoni serta dinamika string yang mencampur aduk perasaan pendengar dengan trill dan counter-pointnya (rajutan antar nada). Ditambah lagi dengan gaya vokal Kharis yang tidak seperti bernyanyi, melainkan bercerita; bisa jadi berdoa sesambatan. Lantas hal tersebut semakin menambah kesan melas dari lagu ini.

Lagu ini membawa kita pada pemaknaan yang serba tidak pasti. Bingung. Bagaimana nasib negeri tersebut? Ketidakpastian semacam itu dalam teknik komposisi musik disebut dengan Aleatori. Singkatnya, aleatori merupakan musik yang dibuat dengan probabilitas bunyi yang banyak. Seperti layaknya melempar dadu. Kemungkinan untuk terjadi perubahan bunyi dan bentuk sangatlah besar. Hal ini tergantung pada penotasian dan interpretasi penyajinya (Dallin, 1974). Contoh sederhana dari pendekatan teknik ini adalah musik jazz. Musik jazz lazimnya memiliki bagian solo instrumen yang condong dengan improvisasi. Satu lagu jazz yang sama, akan memiliki bentuk yang berbeda-beda ketika bagian solo (improvisasi) dimainkan. Bunyi dan bentuk pada improvisasi tersebut tidak akan sama. Tergantung musikalitas dan interpretasi yang memainkannya. Beda pemain, beda bunyi. Kurang lebih seperti itulah musik Aleatori. Tidak pasti.

Sialnya, lagu ini digarap dengan pendekatan tersebut. Sebuah kesengajaan yang cerdik! 

Proses penggarapan lagu ini menggunakan pendekatan Aleatori. Terinspirasi dari Musical Dice Game ala Mozart. Pendekatan tersebut dipakai ketika Silampukau menulis bagian String di intro lagu. Namun, Silampukau mencoba pendekatan ini pada tingkat produksi. Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah: apakah aleatori ini akan dipakai pada konteks penyajiannya? Kita lihat saja nanti ketika lagu ini dibawakan oleh Silampukau di pertunjukannya.

Setidaknya lagu yang terasa seperti kebingungan ini, digarap dengan teknik komposisi yang bingung juga. Sungguh sebuah keseimbangan yang serasi.

Prelude Al-Muqawin: Tentang Suatu Keputusan

Selanjutnya, track Prelude Al-Muqawim. Ini track yang menurut saya adalah yang paling menarik. Meski mungkin bagi sebagian pendengar akan terasa sulit untuk menemukan di titik mananya yang menarik. Track ini meniadakan semua unsur musik konvensional yang cukup kecanduan dengan instrumen musik. Tidak ada bunyi instrumen musik—bahkan lantunan lirik—di track ini. Saya rasa Silampukau cukup berani untuk bereksperimen dengan soundscape sebagai kode simbolik. Soundscape tersebut meliputi bunyi bisikan detik jam, nafas orang yang terengah-engah, langkah kaki sempoyongan yang seolah seperti berjalan di lumpur (atau entah apa itu), angin, dan ombak laut yang lirih. Semua bunyi tersebut dirancang sebagai suatu komposisi yang dilapisi dengan bunyi synth-pad yang gelap dan tipis. Adonan bunyi tersebut memberi ruang sebebas-bebasnya bagi pendengar untuk menginterpretasikan seluruh cerita dari drama gonjang-ganjing negeri fiktif Stambul Arkipelagia.

Sepertinya kita perlu melihat track ini secara serius. Meski hanya bunyi-bunyian saja, atau istilah umumnya adalah sound design, kita perlu menempatkan elemen soundscape tersebut sebagai salah satu gagasan penting dalam dunia pengkaryaan seni musik secara umum. Mengapa soundscape begitu penting untuk ditempatkan sejajar dengan musik konvensional? Saya teringat kutipan dari teks Richard Muray Schafer yang berjudul The Soundscape: Our Sonic Environment and the Tuning of the World (1993).

“The home territory of soundscape studies will be the middle ground between science, society and the arts […] From society we will learn how man behaves with sounds and how sounds affect and change his behavior. From the arts, particularly music, we will learn how man creates ideal soundscapes for that other life, the life of the imagination and psychic reflection.” (Schafer, 1993)

Pada wilayah seni yang diwakilkan oleh musik, musik akan menjelaskan subyektivitas yang meliputi refleksi personal dan imajinasi dari pengalaman mendengarkan bunyi tersebut. Maka dari sini dapat dilihat bagaimana bunyi mampu menciptakan pengalaman estetik manusia bersamaan dengan kesadaran personal yang subjektif. Setidaknya pandangan tentang soundscape inilah yang dapat menjadi jalan tengah untuk membaca kode-kode yang disematkan oleh Silampukau. Track ini seolah menjadi kompas untuk menentukan akan ke mana perjalanan dongeng Stambul Arkipelagia. Keputusan apa yang akan diambil dari tragedi-tragedi yang sudah dilantunkan pada tiga track sebelumnya.

Lantas itulah mengapa track ini berjudul “Prelude” yang mana memiliki arti “Pendahuluan”. Saya justru merasa bahwa track inilah yang menjadi titik awal cerita dari perjalanan Stambul Arkipelagia ke depan; entah nantinya akan sampai pada volume ke berapa dengan total berapa karya musik.

In Memoriam… (Halimun Rahasia): Folk Yang Pesimistik

Hidup harus berlanjut bagaimanapun caranya. Satu kalimat yang mungkin bisa mewakili untuk merenungkan track terakhir di album ini. Memang terkesan cukup pesimistik. Namun kita harus sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh seorang filsuf idealisme asal Jerman, Arthur Schopenhauer tentang pesimisme:

Dari setiap peristiwa dalam hidup, kita dapat mengatakan untuk sesaat bahwa beginilah adanya; sedangkan untuk yang telah berlalu lama, demikianlah adanya.” (Schopenhauer, 1891)

Lantas dari sinilah kita bisa menerka akan ke mana arah dari cerita negeri fiktif ini di Vol.2 nanti. Gairah perlawanan seperti apalagi yang akan dihayati. Namun yang pasti, tetap melawan meski tahu akan mati.

Secara komposisi, track terakhir ini cukup berbeda dari ketiga track di awal album. Satu-satunya track yang menggunakan compound time signature, secara spesifik 6/8. Intro lagu ini hanya menggunakan dua progresi akor saja yang cenderung kembali ke tonal center (Do).  Saya rasa hal tersebut sebagai penggambaran atas perjuangan yang akan terus diulang-ulang meski terasa sempoyongan.

Progresi tema (verse-chorus) pada lagu ini cukup banyak menggunakan pergerakan harmoni kromatis. Alm. Slamet Abdul Sjukur menyebut nada kromatis ini dengan istilah “nada gadungan” lantaran berada di luar jalur sistem tangga nada diatonis; bersifat sebagai sisipan di sela-sela sistem tangga nada. Pemilihan gerak harmoni kromatis tersebut bagaikan sebuah perjalanan yang perlahan-lahan melangkah meski sering oleng. Sebuah langkah yang sedikit demi sedikit memberi makna akan adanya sebuah keajaiban suatu saat nanti.

Saya kurang tahu pasti apa yang dipikirkan oleh teman-teman Silampukau ketika memasak lagu ini. Mengapa pemilihan warna musiknya cenderung berbeda dari ketiga track awal? Bisa jadi ini memang track yang disengaja dibuat berbeda guna melakukan eksplorasi gagasan musik lain; di luar ke-gypsy-an ala Silampukau. Lantas jika memang ini merupakan “lahan” eksplorasi, saya rasa Silampukau agak malu-malu untuk melakukan eksplorasi yang lebih jauh lagi; bahkan lebih berani.

Pendekatan unsur musikal (terutama struktur harmoni) sebenarnya tidak begitu jauh dari impresionisme yang dalam sejarahnya memang lahir di Prancis pada abad 19/20. Antara tidak begitu jauh atau memang mengarah ke sana. Impresionisme menjadi satu era khusus dalam sejarah musik eropa yang mana pada era tersebut ditandai dengan gerakan simbolisme sastra dan seni rupa. Era musik ini dimulai ketika tren seni rupa saat itu berangkat pada penafsiran spontan suatu objek. Itulah mengapa dalam konteks penggagasan ide artistiknya, para komposer impresionis kala itu seperti Claude Debussy dan Maurice Ravel cukup gemar dengan dunia imajinasi serta alam bermain anak-anak. Karena bagi mereka spontanitas alam imajinasi anak-anak merupakan keindahan murni yang apa adanya. Alias spontanitas yang jujur.

Penggunaan idiom ritmis pada tradisi tari, harmoni yang menolak tradisi kuno (diatonis), eksplorasi warna suara dan instrumentasi, merupakan beberapa kata kunci untuk membedah musik impresionisme (Prier & Mack, 1991). Hanya saja para komponis Prancis melakukan “pendobrakan” tradisi musik klasik tersebut dengan cara yang cukup ugal-ugalan; mengingat saat itu Prancis berperan sebagai melting pot untuk perkembangan dunia filsafat, seni, dan sastra di Eropa.

Pada konteks lagu terakhir di album ini, saya merasa upaya eksplorasi tersebut agak nanggung. Meski ada upaya untuk menuju ke arah tersebut. Silampukau bermain pada ruang aman untuk melakukan beberapa eksplorasi. Namun gagasan konteks karya pada bagian ini masih sejalan dengan bagaimana cara impresionisme melahirkan produk-produk seni saat itu, yaitu kesan rahasia dari jaringan konteks ruang-waktu dengan penyimbolan-penyimbolan elemen artistik.

Secara umum (setidaknya ini yang saya tangkap) eksplorasi yang dilakukan oleh Silampukau berada pada area: time signature, gerak harmoni, dan interpretasi nuansa. Time signature yang dipakai masih relatif “pasaran” karena masih cukup dekat dengan ritme slow rock, waltz, dan blues. Mungkin jika lebih berani lagi, eksplorasi time signature merupakan “lahan basah” lantaran banyak sekali kemungkinan ritmis yang bisa digali. Ada time signature 5/4, 5/8, 7/4, 9/8, 15/16, dan lain sebagainya.

Sedangkan pada konteks gerak harmoni, Silampukau malu untuk mengembangkan atribut-atribut harmoni yang lebih kompleks. Misalnya seperti pemakaian akor inversi, akor root-less, modes scale, harmoni paralel, whole tone, dan sebagainya. Karena jika memang benar Silampukau ini menginterpretasikan impresionisme Prancis, maka hal itu yang lazim oleh dilakukan oleh komposer impresionisme kala itu. Lalu pada konteks nuansa musiknya, saya rasa lagu ini ada tendensi untuk mengarah ke folk music (musik rakyat). Saya kurang tahu pasti musik rakyat dari mana yang menjadi ide dari komposisi lagu terakhir ini; dan rakyat yang seperti apa. Lantas mari kita bedah perihal musik folk yang menjadi agama musiknya Silampukau.

Stambul Arkipelagia: Musik Folk Dalam Imaji

Secara aliran, kita mengenal Silampukau sebagai band dengan mengusung folk music sebagai agama mereka. Jika kita mencari definisi musik folk, maka secara sederhana kita akan mendapati istilah “musik rakyat” dari pendefinisian tersebut. Lantas makhluk seperti apakah musik folk itu sendiri?

Musik folk bukanlah sekumpulan lagu dan nada. Ia lebih pada sebuah praktik kerja. Orang-orang mengambil sumber daya musik yang tersedia, lalu dikembangkan dengan berbagai cara yang musikal untuk dapat dimanfaatkan sebagai sebuah bentuk/praktik musik ataupun budaya (Slobin, 2011). Di balik gagasan musik ini, terdapat tujuan serta alasan untuk memberikan ruang pada musik folk sebagai bagian dari hidup serta energi masyarakat yang mengelilinginya. Penyanyi atau pemusik folk biasa membuat musik untuk menunjang praktik kerja agraria, untuk membesarkan anak-anak dan menjaga ikatan keluarga, untuk menyuarakan keyakinan, harapan, dan identitas mereka.

Komposisi garapan Silampukau pada album ini memang cukup membingungkan jika kita berusaha mencari bentuk asli dari sumber ide musik mereka. Mau dikatakan gypsy tapi bukan gypsy, tango tapi bukan tango, impresionisme tapi nanggung. Kita kesulitan untuk mencari justifikasi musik folk apa dan dari mana yang ada di album ini. Terlebih jika itu ditelusuri secara etnomusikologi. Namun inilah kunci dari semua tujuan eksplorasi musik tersebut.

Kita tahu bahwa Stambul Arkipelagia merupakan sebuah negeri fiktif. Seperti layaknya sebuah negeri pada dunia nyata, Stambul Arkipelagia juga memiliki wujud masyarakat, geo-sosial, dan juga geo-politik. Namun dalam tingkat imajinasi (isi kepala). Maka dari itu, gagasan musik folk pada album ini merupakan bentuk sah dari musik folk milik negeri Stambul Arkipelagia. 

Saya rasa ini merupakan cara yang cukup cerdik untuk melakukan elaborasi musik dari berbagai idiom. Silampukau seperti tidak memiliki tanggung jawab untuk menjawab dari mana sumber musik folk itu muncul? Alih-alih mempertahankan keotentikan sumber aslinya, Silampukau memilih untuk mengembangkan dan mengobok-obok sumber tersebut menjadi sebuah musik baru. Musik baru tersebut menjadi dalih bahwa inilah musik folk asal Stambul Arkipelagia, sebuah negeri dalam imaji, pun juga musiknya, Folk dalam imaji.

Akhir Babak Stambul Arkipelagia, Vol.1

Kita masih menunggu apakah akan ada babak kedua untuk dongeng musikal Stambul Arkipelagia. Mengingat ada embel-embel “Vol.1” pada album ini maka saya rasa akan ada lanjutan dari cerita negeri fiktif yang carut marut, pun juga gonjang-ganjing ini. Sebagai pendengar, kita akan disajikan dengan musik yang entah akan seperti apalagi bentuknya, dan juga adonan musik macam apalagi yang akan menjadi sajian yang akan dihidangkan oleh Silampukau.

Apakah dongeng tentang negeri fiktif ini akan selesai sampai track In Memoriam… (Halimun Rahasia)? Justru inilah permulaan. Bagaimana kelanjutan kemelut geger geden Stambul Arkipelagia? Kita semua menantikannya!

Referensi:

Dallin, L. (1974). Techniques of Twentieth Century Composition: A Guide to the Materials of Modern Music. In: Brown Company Publishers.

Prier, K. E., & Mack, D. (1991). Sejarah Musik. Pusat Musik Liturgi. 

Schafer, R. M. (1993). The Soundscape: Our Sonic Environment and the Tuning of the World. Simon and Schuster. 

Schopenhauer, A. (1891). The Essays of Arthur Schopenhauer; Studies in Pessimism (K. Maqin, Trans.). Antinomi Institute. (Tentang Pesimisme)Slobin, M. (2011). Folk music: A Very Short Introduction. Oxford University Press.

Kabar Dari Kawan Lama

Oleh: Intan Suwandi

Mendengarkan lantunan Stambul Arkipelagia rasanya seperti menerima kabar dari seorang kawan lama. Saya tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan apa yang saya rasakan ketika menikmati lantunan “kabar” itu lekat-lekat. Saya bukan seorang pakar musik. Bukan pula seorang veteran penonton konser yang bisa secara fasih menceritakan pengalaman berada di puncak kenikmatan ketika dimanjakan oleh nada, irama, dan dentuman racikan idola. Saya bahkan tidak pernah mengidolakan satu orang pun musisi (apalagi politisi) di sepanjang hidup yang sudah tidak muda ini. Yang jelas, lagu-lagu dari Arkipelagia ini, termasuk di volume terbarunya, bisa menghubungkan saya dengan seorang kawan lama yang entah siapa namanya. Tapi saya seakan tahu karakternya, latar belakangnya, mungkin juga rahasia hidupnya: 

Seorang kawan yang sudah lama berjuang. Mungkin ia lelah bukan kepalang, tapi ia bertahan sambil berbisik pada diri sendiri, “musti sehat musti kuat,” karena “berpasrah pada angin, pada segala mungkin,” gerutunya, “cuma bikin masuk angin.” 

Seorang kawan yang bergulat dengan hilangnya cahaya di tengah ekonomi yang pelik dan panjangnya paceklik. Di mana ia memeluk erat perihnya cinta di balik pahitnya mesiu euforia tahun baru. Kawan yang berbicara lewat blues karena serpihan memori kolektif hanya bisa hidup dalam kata-kata berirama yang terdengar dari ladang-ladang komunal, dari alun-alun kota di mana rakyat melepas pekat, dari warung-warung kopi yang diisi obrolan-obrolan revolusi, dari lumbung-lumbung padi masyarakat adat, dari dapur-dapur umum dan kerja-kerja reproduksi, dan di sela-sela rapat genting warga di gang-gang sempit yang sebentar lagi digusur walikota—jauh tertanam di dalam ingatan yang dijaga oleh perlawanan akar rumput. 

“Duka yang panjang, ai puan, semesta menghilang. Piara ingatan ya, puan, indung disayang.” Tolaklah lupa, ai nona, akan tumpukan sejarah yang terpendam di “halimun rahasia historia,” raib bersama teluk, rimba, dan jutaan nyawa manusia. 

Ya, ia kawan yang luar biasa hebat. Bukan perkasa ataupun bahagia, karena kerja untuk kapital sudah mengasingkannya dari segala yang manis dan bernas, menguras seluruh tenaga, jiwa, dan raga. Tapi ia hebat. Hebat dalam ketekunannya untuk mencari: mencari jalan, mencari kawan, mencari ruang-ruang baru yang bisa ditelusuri bersama kawan-kawan lain untuk kemudian membangun sebuah masa depan. Semua mereka perjuangkan meski konon di Arkipelagia, semua orang suka “cari selamat sendiri-sendiri,” karena begitulah nasib sebuah negeri yang masih percaya takdir dan gemar mengigau kodrat. Penderitaan dunia sudah tersurat, namun keadilan tunggu binasa: you’ll get pie in the sky when you die.

That’s a lie!,” Joe Hill mengingatkan di awal abad kedua puluh. Tidak ada itu namanya kue pai di langit yang kau lahap setelah modar. Workingfolk of all countries unite. Side by side we for freedom will fight. Kemerdekaan haruslah kita perjuangkan bersama, selagi paru-parumu masih bekerja dan tak habis digerus polusi industri. Maka itulah yang kawan saya lakukan. 

Dan ia bersama komunitasnya betul-betul gigih—pantang menyerah bahkan ketika mereka tiada henti dikejar-kejar “bayang-bayang iblis” yang bengis di Sentrapolis. Karena kabarnya perjuangan-perjuangan berbahaya di Arkipelagia lazim dicegat malapetaka bersepatu lars yang kerap “menyeringai sadis”: jagal-jagal penguasa yang siap membawa mereka ke neraka, agar pengusaha dan negara bisa terus bercinta dengan leluasa di atas ranjang yang dibentangkan raksasa-raksasa dunia Utara. 

Begitulah kira-kira. 

Dan ketika Silampukau melantunkan “kabar” dari Arkipelagia, kawan ini menyapa saya begitu mesra dan bertanya sepenuh hati, “Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana perjuanganmu di sana? Tidak apa bila kau lelah. Dunia kita mungkin tak serupa, tapi kita berbagi semesta yang sama.” Semesta yang hancur berantakan dikoyak oleh segala rupa keburukan dan keputusasaan: “seperti malam manakala rembulan menghilang dan maut kian mengundang.” 

Semesta yang meredup serta gelisah nan menjadi-jadi. Gelap dan gulana berkecamuk dalam alunan yang membawa saya, seorang penyendiri si paling khatam mantra-mantra pengusir hingar bingar, menemukan lagi arti persahabatan lewat bait-bait lantang yang menyalakan api-api gerilya tanpa keraguan. Kadang api itu menghangatkan, kadang membara meletup-letup. Persis seperti berbagai jenis tembang yang ditawarkan Silampukau di volume ini. Api perlawanan tak harus seragam bentuknya. Tapi ia dibakar oleh amarah yang semakin lama semakin matang, menempa taktik-taktik perjuangan yang akan melumpuhkan para penindas. 

Melalui gelap dan gulana itu pula dua jiwa kini kian terhubung, dari dua tempat yang berbeda. Terpisahkan oleh ruang dan waktu, disatukan oleh perlawanan yang tumbuh dari ketidakberdayaan, dari dendam, dari mimpi dan angan-angan, atau mungkin, dari sesuatu yang sangat mendasar: dari sebuah pemikiran bahwa kesetaraan bukanlah sebuah ide yang muluk, bahwa setiap orang berhak menjadi manusia seutuhnya—“a rich human being”—tulis Karl Marx, “in which objective wealth is there to satisfy the worker’s own need for development.” 

Untuk Silampukau: terima kasih sudah menghubungkan saya dengan ia yang amat saya rindukan—kawan lama yang tak pernah gentar meski “maut kian benderang”—melalui lantunan yang indah dalam suram, begitu berani dan tajam menusuk relung-relung tirani. Panjang umur perlawanan.

Illinois, 3 November 2025

Musik, Ekstase, dan Iluminasi: Pengalaman Mendengarkan Silampukau

Oleh: Sony Karsono

Pada suatu malam di tahun 2020, sewaktu saya—sebagai perantau Indonesia di Seoul, Korea Selatan—sedang cemas keluyuran di YouTube mencari “jamu kebudayaan” yang, siapa tahu, cukup mustajab untuk membantu saya menyelamatkan puing-puing kewarasan saya di tengah kepungan wabah COVID-19, saya berjumpa dengan Dosa, Kota, dan Kenangan, album karya duo Silampukau yang terbit tahun 2015. Sebagai orang yang merasa “cukup Surabaya”, kenapa baru sekarang radar budaya popular saya menangkap kelebat artefak ini? Kulit lengan ini merinding; jantung ini dag-dig-dug. Jancik! Kenapa mata saya basah waktu telinga saya mendengar bagian ini dari lagu “Malam Jatuh di Surabaya”?   

Gelanggang ganas 5:15

Di Ahmad Yani yang beringas

Sinar kuning merkuri

Pendar celaka akhir hari

Malam jatuh di Surabaya

Lagu ini mengaktifkan kembali, dalam diri saya, 100 gigabyte memori tentang cinta-benci yang menghubungkan sejarah Surabaya dan biografi saya. 

Saban hari, dengan lecut cambuk campur peluk kasih, Surabaya, Si Kota Kerja, menggembleng anak-anaknya, kandung dan tiri, menjadi pemburu duit, pemburu sukses, yang akhirnya kandas sebagai manusia-problem, seperti diingatkan oleh Silampukau melalui ”Lagu Rantau (Sambat Omah)”:

Tujuh tahun yang lalu (hanya bermodal baju dan seratus ribu)

Impian membawaku (nasib ini kuadu …)

Ke Surabaya

Berharap jadi kaya

Tujuh tahun berlalu (kota menghisapku habis)

Impianku tersapu (tubuh makin tipis)

Di Surabaya

Gagal jadi kaya (dompetku kembang-kempis)

Oh, demi Tuhan

Atau demi setan

Sumpah aku ingin

Rumah untuk pulang

Mengingat, dalam banyak kasus, “rumah untuk pulang” ternyata tak pernah ada, sebagian warga kota, meski miskin, bersikeras untuk mampir ke rumah artifisial, ke surga kimia, seperti dilaporkan oleh si pedagang minuman keras dalam lagu “Sang Juragan”: “Kadang datang juga mereka yang terpinggirkan. / Wajah kurang makan, ngotot beli minuman. / Tak habis pikir aku tiap mereka datang./ Ya sudahlah, silahkan. /”

Dalam persekongkolan dengan COVID-19, sekujur album Dosa, Kota, dan Kenangan menciptakan sebuah surga alkimia suara-suara, yang di dalamnya saya menjadi makhluk “menyala”, seorang manusia lain, yang bisa mencampur Surabaya dengan Seoul, rantau dengan rumah, isolasi dengan solidaritas. Dosa, Kota, dan Kenangan memberi saya energi untuk bertahan hidup dalam dunia kapitalis yang mengandung sebuah tarik-tambang antara peradaban dan barbarisme di atas sebuah planet yang sedang kobong.

Demikianlah, sejak sebuah malam di tahun 2020 itu, saya menjadi penggemar Silampukau. Dunia memang kecil: tak lama setelah itu, saya pun menemukan bahwa Eki Dimas Priagusta, salah satu vokalis Silampukau, ternyata adalah mahasiswa saya di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya di dekade pertama abad ini. Pertemuan tatap muka pertama kali antara saya dan vokalis Silampukau yang lain, Kharis Junandharu, terjadi pada tahun 2022, di sebuah kedai kopi di Sidoarjo, satu dari beberapa kota satelitnya Surabaya.

“Stambul” adalah titik kontak antara Surabaya, Sidoarjo, dan Silampukau. Pada Mei 2025, setelah metamorfosis dari duo menjadi orkes, Silampukau merilis bagian pertama dari album multi-volume bernama Stambul Arkipelagia. Mengapa “stambul”? Mengapa “arkipelagia”? 

Jika kita tilik sejarah modern dan kiwari tentang budaya populer di kepulauan (archipelago) bernama Nusantara lalu Hindia Belanda dan kemudian Indonesia, maka akan kita dapati bahwa sebagian leluhur intelektual dari Orkes Silampukau dan Stambul Arkipelagia adalah para pekerja teater bergenre “komedi stambul” yang berkarya di Hindia Belanda: sejak Komedie Stamboel pimpinan Yap Gwan Thay dan Auguste Mahieu pada 1891-1903 hingga The Malay Opera Dardanella pimpinan A. Piedro pada 1926-1935. 

Lahir di Surabaya pada 1891 dan hidup dinamis di Hindia Belanda sampai pertengahan dekade 1930-an, komedi stambul adalah genre teater musikal popular lintas-etnis berbahasa Melayu. Ia adalah cara pengusaha dan pekerja teater di Jawa Timur menanggapi kebutuhan baru warga kota akan “jamu budaya” peringan beban hidup dalam masyarakat yang sedang mengalami modernisasi kolonial dengan pelbagai problemnya, seperti pengisapan, penindasan, alienasi, anomi, atomisasi, dan kerapuhan identitas. Dalam pentas keliling dari kota ke kota, para pekerja komedi stambul menawarkan sebuah teater hibrida dengan menu oplosan kosmopolitan: ceritanya internasional (misalnya, 1001 Malam, Faust, dan Putri Putih Salju, The Mark of Zorro, dll.); lagu-lagu stambulnya dibawakan dengan musik keroncong, gambang kromong, atau gamelan; dramaturgi dan teknologi dramatiknya diadopsi dan diadaptasi dari Eropa; aksi panggungnya kadang melibatkan adegan duel pedang; para aktor, sutradara, dan usahawan teaternya multietnik (Eropa, Indo, peranakan Tionghoa, Jawa, Melayu, Filipina, Guam, dll.). Dari pertunjukan teater stambul, para penontonnya, yang lintas-etnis pula, memperoleh bukan hanya tontonan pelipur lara yang “baru”, “mengherankan”, dan “ramai”, melainkan juga sebuah alat untuk menjajaki berbagai identitas, membayangkan dunia-dunia alternatif, menguji batas-batas semesta kolonial. Komedi stambul pernah berperan sebagai alat bagi para warga non-elit Hindia Belanda untuk beremansipasi sebelum era subur politik pergerakan nasional. Ia juga berfungsi sebagai bentuk budaya komersial terpenting bagi para warga non-elit untuk menciptakan jenis modernitas yang menjawab kebutuhan mereka di Nusantara sebelum datangnya radio dan film.   

Pada paruh kedua dekade 1920-an, The Malay Opera Dardanella, perusahaan teater kelahiran Sidoarjo tahun 1926, memainkan peran penting dalam evolusi komedi stambul menjadi tonil. Dibandingkan dengan komedi stambul, tonil tampil lebih Barat, lebih intelektuil, lebih modern. Di tangan Dardanella, tonil bekerja bukan sekadar sebagai mesin pengaduk emosi penonton, tetapi juga sebagai kritik sosial, pembentuk identitas individu, dan pembangkit kesadaran nasional. Ini semua adalah bahan-bahan bagi para penonton untuk membangun rumah psikis, rumah sosial, dan rumah politik di dunia modern. 

Sejak 1963, setelah Papua Barat resmi menjadi bagian dari Indonesia, rumah-rumah itu telah berdiri: di arkipelago yang membentang dari Sabang sampai Merauke, ada individu-individu Indonesia; ada bangsa multietnik Indonesia; ada Republik Indonesia. Namun, bagi cukup banyak manusia di dalamnya, arkipelago ini—walau sudah mengalami deret metamorfosis dari kolonialisme, revolusi, dan demokrasi parlementer sampai demokrasi terpimpin, orde baru, dan reformasi—masih terasa sebagai house belaka, atau bahkan puing-puing, belum menjadi home sejati. Perjuangan jauh dari kelar. 

Pada 2025, Orkes Silampukau asal Surabaya seperti sedang melanjutkan permainan, petualangan, dan perjuangan yang sudah dirintis pada dekade 1890-an sampai dekade 1930-an oleh Komedie Stamboel asal Surabaya dan juga The Malay Opera Dardanella asal Sidoarjo. Dengan album Stambul Arkipelagia, Orkes Silampukau menyajikan dramatisasi musikal dan kritik sosial atas negara-negara pseudo-demokratis dan sok modernis sebagai “Arkipelagia”, negara-bangsa maritim tropis yang para penduduknya mengalami “distopia terburuk”, sebuah kondisi darurat yang menyatakan diri dalam krisis ekonomi, krisis reproduksi biologis, pemanasan global, kecemasan politik, kekerasan massa, dan teror negara. 

Orkes Silampukau tampaknya menyadap ruh dan strategi komedi stambul dan tonil untuk menciptakan apa yang mereka namakan musik fusion folk. Ini tidak aneh sebab Kharis Junandharu pernah beberapa tahun menekuni teater mahasiswa di Universitas Airlangga, Surabaya sebagai, antara lain, sutradara dan penata musik. Seperti para pekerja Komedie Stamboel yang mengoplos berbagai unsur dramatik, musikal, dan sastrawi dalam pertunjukan-pertunjukan mereka, Orkes Silampukau dalam Stambul Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2 memasak gado-gado musikal dengan mencampurkan gypsy, blues, melayu, ragtime, country, dan tango. Seperti para pekerja The Malay Opera Dardanella yang menggunakan teater sebagai sarana untuk menghibur penonton dan sebagai perkakas intelektual untuk perubahan sosial, Orkes Silampukau, melalui Stambul Arkipelagia, melakukan dua kerja: 1) menghibur para pendengar dengan eksperimen musikal dengan derajat keterampilan dan keberanian yang mengundang perbandingan pada eksperimen Rhoma Irama dalam semesta dangdut di dekade 1970-an dan 1980-an; 2) membagikan kritik atas kontradiksi-kontradiksi dalam berbagai modernitas yang mengejawantah di negeri-negeri Selatan Global. 

Bagaimana kinerja Stambul Arkipelagia dalam menjalankan dwi-tugas itu? Sebagai pendengar amatir-primitif, saya menangkap kesan bahwa Vol. 1 menggarap proses pemanasan. Sebagai kamera sosial, lagu-lagu di dalamnya tampil prima; sebagai aksi penghiburan, mereka tampil OK. Bagaimana pun, saya menaruh respek pada keberanian Orkes Silampukau mengambil langkah riskan bereksperimen. Sukses album Dosa, Kota, dan Kenangan pada 2015 mungkin datang bersama dengan godaan bagi Silampukau untuk mencetak sukses bagi album berikutnya dengan mengulang-ulang jurus-jurus yang sudah membuahkan Dosa, Kota, dan Kenangan. Kalau diikuti, godaan ini bisa mengubah si pemusik menjadi sekadar mesin musik. Syukurlah. Silampukau coba menghindari kutukan yang sering menghantui keberhasilan itu dengan mengubah diri. Mereka berganti strategi kreatif, yang boleh diperbandingkan dengan strategi komedi stambul membarui diri menjadi tonil. 

Dibandingkan dengan Vol. 1, Vol. 2 Stambul Arkipelagia adalah seekor “binatang” yang sungguh berbeda. Lagu-lagu di dalamnya memberi saya momen-momen eksplosif, buah chemistry antara ekstase musikal dan iluminasi sosial. Pengalaman seperti ini saya peroleh dari, misalnya, lagu “Jurang Kemiskinan 2: Saga Khatulistiwa”, yang bercerita tentang situasi homo homini lupus

Kususun tangga dari mayat sanak-saudara

lazimnya tradisi Arkipelagia.

Kupanjat tangga dari mayat sanak-saudara

di kaki tebing neraka.

[…] 

Ai, kita semua,

selama-lama-lamanya bersabung

di Saga Khatulistiwa! 

Momen-momen ekstase-iluminasi yang saya alami ketika mendengarkan baik Stambul Arkipelagia Vol. 2 maupun Dosa, Kota, dan Kenangan adalah jejak-jejak dari sebuah energi kreatif yang meniupkan roh pada komponen “-pukau” dalam nama Silampukau. 
Pada suatu hari, mungkin melalui oplosan yang terbuat dari musik teatrikal StambulArkipelagiaVol. 1-3 dan berbagai artefak budaya lainnya, kita akan terbang menuju sebuah ruang istimewa, tempat kita bisa melihat potret-potret sinar-X tentang kondisi psikis dan sosial kita dan menangkap energi “mesianik” untuk membebaskan diri dari struktur diabolik yang kini mengungkung kita.

Seoul, 14 Desember 2025

Gelagat Nada-Nada Agonia

Oleh: Riri Riza

Album terbaru Silampukau, Arkipelagia, bagiku adalah sebuah hasil dari daya upaya mencari kelokan baru dalam penciptaan musik. Perubahan format dari duo menjadi sebuah orkes bukan sekadar keputusan estetika—itu sebuah keberanian, bahkan semacam tekad untuk membuka pintu baru dalam cara mereka bercerita, karena itulah musik bagi mereka. Silampukau menghadirkan sebuah cerita tanah rekaan yang jauh sekaligus sangat dekat dengan Indonesia hari ini. Arkipelagia terasa seperti bayangan negeri kita sendiri: diregang oleh kekuasaan yang tercerabut dari tanahnya, penguasa mengidap diabetes dan hidup di awang-awang, tak berpijak kepada siapa mereka mestinya menghamba.

Album ini diluncurkan dalam beberapa bagian, seperti cerita bersambung tentang sebuah negeri yang sedang melalui masa pancaroba. Kerusakan menyentuh setiap lini kehidupan, sementara kita menjadi mamalia tak berdaya yang masih beranak-pinak dan bermanuver kiri-kanan di antara reruntuhan. Di nomor-nomor Arkipelagia, saya melihat Indonesia yang pelan-pelan runtuh dan terpecah oleh kuasa manusia-manusia yang tidak saya kenali lagi. Ini bukan Surabaya dari album pertama mereka yang—entah kenapa—membuat saya rindu akan Surabaya walau saya tak terlalu sering ke sana. Kumpulan lagu-lagu ini adalah cerita tentang tanah pedalaman di mana hawa lebih sering beraroma asam, kemegahan dan kelapukan tergambar bergantian, menyesakkan. Kharis dan Eki seperti serigala malam: melolong mencemaskan, mengingatkan, sekaligus jadi penyambung suara para pejuang bawah tanah. Mungkin Arkipelagia akan terdengar lebih keras beberapa dekade dari sekarang. Ia seperti pesan yang dilemparkan ke masa depan—seperti saat aku mendengar cerita-cerita heroik laskar pemuda dari Sulawesi di masa revolusi: mereka seketika bergerak ke sana dan kemari, membawa surat, menjadi penghubung, dan ikut bertempur di Serangan Umum 1 Maret 1949. 

Folk—dalam sejarahnya—selalu menjadi musik akar rumput. Saya pernah banyak mendengar Bob Dylan dan Joan Baez, dan karena mendengarkan Dylan, saya lalu mengetahui cerita Woody Guthrie yang adalah guru dari gerakan folk era Dylan. Di Indonesia pada era derita 80-an ada banyak cerita atau puisi protes dan cerita progresif dari Leo Kristi, Franky Sahilatua atau Iwan Fals. Folk masih hidup di antara kita, ia masih punya pengikut di kalangan pendengar muda perkotaan, walau mungkin di ruang ruang yang lebih sepi.

Secara musikal, Silampukau kini bergerak dengan langkah yang lebih lebar. Permainan terompet dalam Blues Bunga Api, suasana orkes stambul, hingga Gerimis yang begitu muram dan sunyi memberi warna baru yang mendalam. Dalam struktur dramatik film, Arkipelagia seperti sebuah cerita yang penuh momentum, penuh amarah yang ditahan. Ketegangan seolah berhasil dihadirkan dalam dialog-dialog yang kadang terucap tenang. Menggambarkan bagaimana kebodohan yang dipelihara penguasa, bagi masyarakat bisa menjadi senjata yang paling menghancurkan.

Beberapa nomor kesukaan saya di Arkipelagia. Gerimis Malam Kemarau, karena lagu ini adalah bentuk nyata dari negeri Arkipelagia, selalu ada celah-celah indah yang ditemukan di antara musim derita yang tak habis-habis. In Memoriam, puisi bluesy yang begitu kita-kita. Coba amati satu per satu kosakatanya. Sepekat itu kepahitan. Sejauh Ku Memandang. Musik ini bagiku adalah alarm kalau hidupku ini sesungguhnya juga dibangun oleh orang orang yang jauh di sana, mereka bekerja saja, ikut maunya musim, bahkan mimpi pun selalu terlupa. Sentrapolis, sebuah lagu yang membuat saya ingin menulis sebuah film neo-noir Indonesia, tentang tokoh-tokoh di sebuah kota kecil, tidak lama setelah revolusi baru selesai. Sejoli, ini adalah potensi asmara penuh keringat dalam film neo-noir tadi, sebuah tempat minum-minum yang selalu ramai karena menjual arak termurah di Sentrapolis.

Lagi-lagi bagiku, Indonesia dalam Arkipelagia adalah tanah yang dikeruk, terus diperkosa oleh para penguasa rakus. Saya membayangkan album ini adalah sebuah film neo-noir: ada orang orang yang harus bersiasat dalam krisis bumi yang mengubah temperatur dan membuat kemarau dan musim hujan datang di waktu kalender yang ganjil. Tentu, ini lebih berupa cerita perlawanan-perlawanan rakyat yang berlangsung di lorong-lorong gelap dan terowongan bawah tanah. Para penguasa semakin gemuk hingga agak rabun dan tuli, warga berkumpul di ruang-ruang gelap untuk saling menguatkan lewat musik, puisi, dan arak murah sambil menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali ke permukaan. Mereka tak lupa mengisi lumbung-lumbung padi, mempersiapkan diri untuk hari yang lebih keras, mana tahu perlawanan mesti dilakukan secara terbuka.

Toh, dalam mendengarkan kumpulan musik ini, ada optimisme kecil dalam hati saya—optimisme yang mengingatkan pada lahirnya karya-karya penting di masa ketika bangsa ini baru menyesap kemerdekaannya setelah 1945-49. Masa singkat itu melahirkan Chairil Anwar, Pramoedya, Usmar Ismail: para perintis yang menempuh jalan estetika dan politik dengan keberanian setara. Arkipelagia membawa gema keberanian itu.

Di negara di mana penguasa tak pernah belajar dari kesalahan masa lalu, Arkipelagia hadir sebagai pengingat sekaligus penanda: bahwa seni bisa tetap menjadi ruang perlawanan.

Paris, 14 Desember 2025