Diatonik Kota, Bola, dan Vodka

[vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_column_text]

Afrizal Malna

Saya mengenal K. L. Junandharu (biasa saya panggil dengan sebutan Kharis) sebagai seorang esais, juga menulis cerpen. Wawasan literaturnya mungkin lebih luas daripada saya. Baru setelah itu saya mengenalnya sebagai seorang pemusik. Saya kira dia juga mengenal wacana-wacana di sekitar kultur urban, ideologi para indie, melihat kota sebagai cerita, majas, tamsil, dan gelisah: mengapa kota kian tumbuh menjadi ruang yang asing.

Saya mendapatkan lagu-lagu ciptaannya melalui email. Ada semacam suasana folk, country dan keroncong dalam pengolahan diatonik (untuk layar-layar suara) maupun interval (untuk sayatan perpindahan suara) yang terjaga dalam musik-musiknya. Suasana yang membuat saya seperti sedang mendengar cerita yang sedang dituturkan melalui musik. Penuturan ini tidak semata-mata karena syair-syair pada musiknya. Melainkan semua posisi: tekstur vokal penyanyi, berbagai alat musik yang dimainkan, dan keseluruhan musik hadir dengan posisi sebagai pencerita. Sebuah pengolahan diatonik yang fasih dari berbagai unsur bunyi dan bagaimana masing-masing bunyi diposisikan. Lalu semacam interval yang membawa kita kepada semacam lanskap perjalanan, pemandangan kota, lapangan bermain atau suasana malam. Kota seperti bisa diturunkan dari sebuah petikan gitar atau suara dari sebuah alat tiup dan ketukan.

Hampir seluruh tema dalam musiknya datang dari ruang publik. Tema yang dengan cepat bisa dikenali oleh para pendengar. Tetapi tema-tema ini (seolah-olah) dibawa kembali ke sebuah ruang pribadi, mengubah tema-tema sosial sebagai kenangan dari seseorang-aku. Sehingga musiknya hadir dalam ruang antara aku dan kamu.

Mendengar musik dari Silampukau, saya seperti mendengar dalam ruang seperti ini. Seakan-akan musik sebagai sebuah kamar pribadi yang hanya ditujukan untuk seseorang, bukan untuk massa. Saya tidak tahu, apakah ruang seperti ini juga merupakan semacam perwujudan dan ideologi indie yang dibawa Silampukau, bahwa musik tidak semata-mata untuk produk massal atau untuk pasar.

Musik dan syair diturunkan dengan cara sangat tertib, santun. Tidak tergoda untuk memainkan semacam kebanalan dalam teks, atau kebanalan dalam musik-musik digital yang melanda generasi mereka. Tidak terjebak untuk ikut masuk ke dalam musik sebagai bagian dari polusi suara. Permainan skala bunyi dan makna antara lirik lagu, alat musik dan komposisi berlangsung jernih. Bahkan pada masing-masing bagiannya bisa membangun kamar suaranya sendiri sebagai layar-layar bunyi yang saling menjalin.

Dosa, Kota, dan Kenangan yang menjadi judul album ini, membawa semacam tema umum, bahwa setiap kota memiliki lukanya sendiri sebagai inti cerita. Tentang warga kota yang kehilangan lapangan untuk bermain: ”Kami rindu lapangan yang hijau. Harus sewa dengan harga tak terjangkau. Tanah lapang kami berganti gedung. Mereka ambil untung, kami yang buntung. Kami hanya main bola, tak pernah ganggu gedungmu. Kami hanya main bola, persetan dengan gedungmu” (Bola Raya). Membuat peregangan makna kota dengan bola antara gedung (lahan komoditi) dan lapangan (lahan publik).

Kota telah bergerak dalam alur yang lain. Mama dan Papa tidak semata-mata berisi wejangan. TV telah menenggelamkan sang mama, dan sang anak harus mengejar untuk bisa masuk ke TV agar sang mama baru bisa melihat anaknya kembali setelah berada dalam TV (Doa 1). Tetapi sang anak justru masuk ke dalam pergaulan indie: “Terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci …” menelantarkan kuliah “atas nama musik dan hidup yang penuh kebebasan.”

Syair mereka memiliki tulang punggung kuat dalam menciptakan rima antara tamsil dan majas. Syair yang tidak pada umumnya di mana pendengar bisa mendapatkan ungkapan: “Rene Descartes, Moliere, dan Maupassant. Kau penuhi kepalaku yang kosong … mengapa musti ke sana? Jauh-jauh Puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama” (Puan Kelana). Realitas kehidupan kota yang hanya menghasilkan keluhan dalam rumah (yang sudah kehilangan rumah): “Waktu memang jahanam, kota kelewat kejam, dan pekerjaan menyita harapan. Hari-hari berulang, diriku kian hilang, himpitan hutang tagihan awal bulan. O, demi tuhan, atau demi setan, sumpah aku ingin rumah untuk pulang!” (Sambat Omah).

Petikan gitar sama artikulatifnya dengan vokal dalam lagu Sambat Omah. Bermain dalam suara-suara rendah, membuat saya seperti sedang berjalan dalam kebun tebu tanpa dinding. Suara yang mengelilingi telinga, antara absolut dan tidak absolut, sehingga saya seperti bisa melihat melalui telinga; kontur yang tidak terlalu kontras antara suara rendah dan suara tinggi untuk tuhan dan setan dalam frase yang sama. Dalam Sang Juragan, karakter tokoh dalam lagu sudah hadir hanya dengan suara siulan, seperti yang biasanya dilakukan oleh mereka yang memelihara burung dalam sangkar. Menghadirkan majas tentang identiknya antara pedagang miras dengan mereka yang duduk di parlemen sebagai: “Hidup ini tambah keras, semenjak naiknya harga miras. Anggur, vodka, arak beras, lebih hemat campur potas,” lalu, musik dikejutkan oleh semacam sayatan interval dengan harmonika.

Kehidupan kota pada akhirnya merupakan bagaimana ruang makna dikelola sebagai pengelolaan diatonik antara ruang, bangunan dan manusia dengan berbagai dimensinya. Mabuk (Sang Juragan) dan seks (Si Pelanggan, Dolly) sebagai sejarah panjang yang sifatnya lebih natur daripada kultur.Tetapi pengelolaan diatonik itu akhirnya seperti kronologi harian dari peregangan suara “tik-tok jam” sebagai tik-tok jatuhnya makna demi makna:

Di luar pagar sana, kawanku,
kehidupan memanggilmu.
Tapi tahun kian kelabu.
Makna gugur satu-satu,
dari pengetahuanku,
dari seluruh pandanganku,
pendengaranku,
penilaianku.
Mentari tinggal terik bara tanpa janji.
Kota tumbuh,
kian asing, kian tak peduli;
dan kita tersisih di dunia yang ngeri,
dan tak terpahami ini.
(Balada Harian)

 

Musik mungkin satu-satunya sub-kultur urban sebagai ruang interval untuk bertemu dengan sub-urban lainnya. Ruang interval untuk kota, seperti Surabaya, yang ruang maknanya terpecah dan tersebar dalam sekian banyak situs kenangan yang tidak terkelola. Kota telah membuat doa dan dosa berada dalam gerbong kereta yang sama. Keduanya menjadi kembar yang saling membutuhkan, dan hanya dipisahkan setipis huruf s. Sebuah situs kota, Jalan A. Yani, telah menjadi semacam konvensi dalam karya sastra di Surabaya sebagai situs kota yang ganas, menjatuhkan banyak korban, yang juga bisa kita temukan pada novel Rafilus karya Budi Darma. Tetapi juga ada semacam varian lain dalam album ini, yang ikut mengukuhkan musik-musik folk seperti Leo Kristi atau Gombloh. Silampukau, dalam album ini, lebih membawanya sebagai ruang antara aku dan kamu. Membuat semacam interval antara musik sebagai pasar dan musik sebagai kita berdua saja.***

Afrizal Malna
Berlin, 14 Desember 2014

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]