Sehari setelah peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, Silampukau akan mengadakan konser tunggal. Konser ini diselenggarakan di Gedung Kesenian Cak Durasim, yang dibangun pada tahun 1976 dengan kapasitas 500 pengunjung. Cak Durasim sendiri adalah seorang seniman paling populer sekaligus kontroversial di zamannya. Melalui ludruk, ia mengangkat narasi-narasi kecil kehidupan warga Surabaya, namun selain itu, ia juga banyak melontarkan kritik kepada penguasa melalui berbagai gendhing jula-juli yang ia gubah.

Tanpa ingin dibebani oleh narasi-narasi heroik semacam itu, sebetulnya konser ini hadir untuk memenuhi sebuah cita-cita sederhana yang sudah lama mengendap di benak para personil Silampukau: menyelenggarakan konser tunggal di kota sendiri!

Ini menjadi cita-cita yang harus diusahakan karena setelah menjamurnya teknologi perekaman dan koneksi internet yang semakin cepat, lebih banyak konser dinikmati di dalam layar kaca. Silampukau ingin mengembalikan musik ke atas panggung, menyuguhkannya dengan layak, dan menjalin koneksi yang lebih riil dengan penonton.

Silampukau akan menampilkan sepuluh repertoar yang ada dalam album “Dosa, Kota dan Kenangan” dalam formatnya yang paling orisinil yang melibatkan kawan-kawan musisi yang pernah turut campur dalam pembuatan album tersebut. Sehingga menyaksikan konser ini seperti menyantap sepiring rujak cingur di Surabaya. Cita rasa asli sebuah kota dinikmati di kota asalnya.

Silampukau Logo 130x130

march 2017

No Events